NAMA : LINA HERLINA
NIM : 108015000011
JURUSAN : IPS SOSIOLOGI IV B
MATA KULIAH : BAHASA DAN KEBUDAYAAN
HERMENEUTIKA
Perkembangan Hermeneutika
Secara etimologis hermeneutika berasal dari bahasa yunani, hermeneuein yang berarti mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata. Kata kerja itu juga berarti menerjemahkan dan juga bertindak sebagai penafsir. Dalam definisi lain Habermas menyatakan hermeneutika sebagai suatu seni memahami makna komunikasi linguistic dan menafsirkan symbol yang berupa teks atau sesuatu yang diperlukan sebagai teks untuk dicari arti dan maknanya, di mana metode ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, tetapi kemudian dibawa ke masa sekarang.
Menurut Howard Hermeneutika tidak muncul tiba-tiba sebagai suatu daftar khusus khasanah ilmu pengetahuan, tetapi merupakan suatu subdisiplin teologi yang muncul sangat awal dalam sejarah peradaban manusia yang mencangkup kajian metodologis tentang otentikasi dan penafsiran teks. Namun dalam kurun waktu berikutnya, berkembang dan mencangkup masalah penafsiran secara menyeluruh. Sebab, tekstualitas yang menjadi arena beroprasinyakerja hermeneutika telah diperluas maknanya. Teks bukan lagi semata merujuk pada pengertian teks ajaran agama atau kitab suci, melainkan mencangkup teks-teks lain. Bahkan definisi teks dalam perkembangan hermeneutika lebih lanjut juga kian meluas, bukan lagi teks tertulis tetapi juga lisan dan isyarat-isyarat dengan bahasa tubuh. Karena itu, sikap “diam” seseorang misalnya juga, bisa dianggap sebagai teks, karena mengundang banyak interpretasi.
Beberapa Varian Hermeneutika
Sejak mengalami re-evaluasi teoritik, hingga sekarang telah berkembang beberapa varian hermeneutika. Diantaranya yaitu:
Pertama, Hermeneutika romantisis dengan ekspemplar Friedrich Ernst Daniel Schleirmacher, seseorang filosof, teolog, filolog, dan tokoh sekaligus pendiri protestantisme Liberal. Filsafat hermeneutika Schleirmacher mengajukan dua teri pemahaman hermeneutika. Pertama, pemahaman ketata-bahasaan terhadap semua ekspresi. Kedua, pemahaman psikologis terhadap pengarang. Dari bentuk kedua ini Schleirmacher lalu mengembangkan apa yang ia sebut intuitive understanding yang operasionalnya merupakan suatu kerja rekonstruksi. Artinya, hermeneutika bertugas untuk merekonstruksi pikiran pengarang. Tujuan pemahaman bukan makna yang diperoleh dari dalam materi subyek. Tetapi lebih merupakan makna yang muncul dalam pandangan pengarang yang telah direkonstrusi tersebut. Jadi intrepentasi yang benar menurut Schleiermacher, tidak saja melibatkan pemahaman konteks kesejarahan dan budaya pengarang, tetapi juga pemahaman terhadapa subyektivitas pengarang.
Kedua, hermeneutika metodis dengan eksemplar Wihelm Dilthey. Menurut persepektif ini manusia bukan sekedar mahluk berbahasa tetapi mahluk eksistensial. Karena itu, proses pemahaman bermula dari pengamalan, kemudian mengekspresikannya. Menurut Dilthey, sejak awal manusia tidak pernah hidup hanya sebagai mahluk linguistic yang hanya mendengar, menulis dan membaca yang memahami dan menafsirkan dalam setiap aspek kehidupannya.
Ketiga. Hermeneutika fenomonologis dengan eksemplar Edmund Husserl. Husserl menganggap bahwa pengetajuan dunia obyektif itu bersifat tidak pasti, melalui fenomenologi orang harus memiliki keberanian untuk memerima apa yang sebenarnya terlihat dalam fenomena secara tepat sebagaimana ia menghadirkan dirinya lebih daripada menafsirkannnya, dan kemudian menggambarkannya dengan penuh kejujuran. Menurut hermeneutika Husserl proses penafsiran harus kembali pada data, bukan pada pemikiran, yakni pada halnya sendiri menampakan dirinya.
Keempat, Hermeneutika dialektis dengan eksemplar Martin Heidegger. Menurut Heidegger prasangka-prasangka historis atas obyek merupakan sumber-sumber pemahaman karena prasangka adalah bagian eksistensi yang harus dipahami.
Kelima, hermeneutika dialogis dengan eksemplar Hans Georg Gadamer. Menurut Gadamer, pemahaman yang benar adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologism, bukan metodologis, artinya kebenaran dapat dicapai bukan melalui metode, tetapi melalui dialektika dengan mengajukan banyak pertanyaan. Dengan begitu bahasa menjadi sangat penting bagi terjadinya dialog.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar