Nama : Tendi
NIM : 108015000057
Jurusan : Pendidikan IPS Sos/Antro IV B
Mata Kuliah : Bahasa dan Kebudayaan
PENDAHULUAN
Ketika lahir ke dunia, manusia dalam keadaan polos dan suci tanpa mengenal apapun. Belum bisa berdikari dan masih tidak berdaya. Dengan kelebihan akal yang dianugerahkan kepadanya, manusia mulai belajar bagaimana manusia itu bisa bertahan dan terus mengoptimalkan fungsinya di dunia ini. Untuk mengoptimalkan fungsinya tersebut mereka sadar bahwa mereka harus bekerja sama dan berusaha bersama-sama untuk merealisasikannya, mereka sadari bahwa mereka tidak bisa hidup mandiri dan sendiri sepenuhnya. Karena dalam berbagai aspek lain mereka akan membutuhkan pertolongan orang lain dan harus dikerjakan dengan kerja sama. Dari kebutuhan hidup bersama ini lah lahir sebuah media atau alat yang bisa menghubungkan satu manusia dengan manusia lainnya, disini bahasa pun muncul dan manusia mulai berbahasa. Manusia berbahasa berarti manusia hendak mengungkapkan pikiran, perasaan dan sikap. Dengan bahasa dan berbahasa, kebudayaan manusia berkembang. Pewarisan kebudayaan dilakukan pewarisan bahasa yang bermakna. Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama.
Bahasa adalah suatu kompetensi yang terdapat dalam jiwa manusia yang isinya adalah simbol-simbol dalam berbagai bentuk yang berfungsi untuk mengkomunikasikan segala produksi dari aspek jiwa seseorang kepada aspek jiwa orang lain. Yang dimaksud dengan aspek jiwa adalah pikiran, perasaan, pemahaman, pengenalan, pertimbangan, fantasi, kata hati, insting, pemenuhan kebutuhan biologis, insting pemenuhan kebutuhan agama, mencipta, berprestasi, harga diri, social, dan pengambilan keputusan.
Manifestasi bahasa dalam bentuk lisan berhubungan dengan konsep tutur. Dimana tutur merupakan ujaran lisan atau rentetan perbincangan yang didahului dan diakhiri dengan respon atau kesenyapan pada pihak penyimpang. Makna sendiri dibedakan menjadi dua macam, yaitu makna tekstual dan makna referensial. Makna tekstual adalah
makna yang terbangun dari hubungan antar tanda yang ada di dalam teks, sedangkan makna referential terbangun dari hubungan antara teks dan dunia luar. Makna referential itu pun dibedakan lagi menjadi dua macam, yaitu makna referential yang ostensif dan makna referential yang deskriptif. Yang pertama merupakan makna yang dapat dicek dalam dunia empiris yang ada diluar teks, sedangkan yang kedua merupakan makna yang dapat dicek dalam dunia empiris yang direka di dalam teks itu sendiri. Makalah ini akan membahas tentang hakekat makna serta fungsinya dalam bahasa dan budaya.
BAB II
PEMBAHASAN
Makna Pengujar dan Ujaran
Konsep makna memberikan dua interpretasi. Hal ini mencerminkan adanya dialektika antara peristiwa dan makna. Dua interpretasi tersebut adalah :
1. Apa yang dimaksud oleh pembicara, yaitu apa yang ia kehendaki dari perkataan.
2. Apa yang dimaksudkan oleh kalimat, yaitu apa yang dihasilkan oleh konjungsi antara fungsi identifikasi dan fungsi predikatif.
Percakapan merupakan satu kegiatan atau peristiwa berbahasa lisan antara dua atau lebih penutur yang saling memberikan informasi dan mempertahankan hubungan yang baik. Didalam percakapan inilah kita berkomunikasi dengan seseorang.
Dalam bermunikasi ini, pendengar diharapkan memahami maksud dari si pengujar karena sebuah komunikasi yang salah kaprah akan mengakibatkan kesalahan yang fatal. Oleh karena itu keduanya diharapkan memahami tentang hakekat makna. Makna sendiri dibedakan menjadi dua macam, yaitu makna tekstual dan makna referensial. Makna tekstual adalah
makna yang terbangun dari hubungan antar tanda yang ada di dalam teks, sedangkan makna referential terbangun dari hubungan antara teks dan dunia luar. Makna referential itu pun dibedakan lagi menjadi dua macam, yaitu makna referential yang ostensif dan makna referential yang deskriptif. Yang pertama merupakan makna yang dapat dicek dalam dunia empiris yang ada diluar teks, sedangkan yang kedua merupakan makna yang dapat dicek dalam dunia empiris yang direka di dalam teks itu sendiri.
Sewaktu berkomunikasi, kita itu mengkomunikasikan amanat, dan proses berkomunikasi itu terkondisi oleh berbagai situasi, umpamanya rebut hingga kita harus berteriak, dan dalam situasi formal kita juga harus memilih kata-kata yang formal pula. Suasana mengkondisi penyampaian, dan tambah pula bahwa amanat yang sama dapat disampaikan dengan berbagai cara. Singkatnya bentuk amanat itu sendiri adalah satu faktor dalam situasi ujaran. Pertuturan mempunyai 7 macam fokus yang menjadi orientasi kegiatan penuturan yaitu:[1]
1. Penutur,
2. Pendengar (penanggap tutur),
3. Kontak antara kedua pihak,
4. Kode linguistik yang dipakai,
5. Latar (setting),
6. Topik amanat, dan
7. Bentuk amanat.
Makna sebuah kata dipahami dengan melihat kalimat atau relasinya dengan kata yang lain. Demikian pula sebaliknya, makna sebuah kalimat bergantung pada makna kata dalam kesatuan tersebut. Makna adalah hasil komunikasi yang penting. Makna yang kita miliki adalah hasil interaksi kita dengan orang lain. Kita menggunakan makna untuk menginterpretasikan pertiwa disekitar kita. Interpretasi merupakan proses internal didalam diri kita. Kita harus memilih, memeriksa, menyimpan, mengelompokan dan mengirim makna sesuai dengan situasi dimana kita berada dan arah tindakan kita. Dengan demikian, jelaslah bahwa kita tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain tanpa memiliki makna yang sama terhadap simbol yang kita guna.[2]
Terkadang makna bisa terwujudkan dalam berbagai macam manifestasi dalam kehidupan. Bahkan dalam berbagai macam penggunaan dan juga dalam keadaan realitasnya, makna ini sering terbagi dalam berbagai macam tingkatan.
Sosiolog Karl Manheim, pernah mengajukan teori bahwa setiap karya seni (termasuk juga karya sastra) mau tidak mau akan menyampaikan makna pada tiga tingkat yang berbeda. Tingkat pertama adalah makna objektif, yaitu hubungan suatu karya dengan dirinya sendiri: apakah dia gagal atau berhasil menjelmakan keindahan dan pesan yang hendak disampaikannya. Tingkat kedua adalah makna ekspresif berupa hubungan karya itu dengan latar belakang psikologi penciptanya. Suatu karya sastra adalah ekspresi suatu momen tertentu dari episode kehidupan si pencipta. Tingkat ketiga adalah makna dokumenter berupa hubungan antara karya itu dengan konteks sosial penciptaannya. Inilah mengapa sebuah karya sastra yang baik bukan hanya dilihat dari nilai keindahannya semata, melainkan juga nilai kebenaran yang ada di dalamnya.[3]
JD Parera, dalam bukunya Teori Komunikasi, mengasumsikan bahwa kiranya ada empat tingkat makna yang harus dilewati untuk menyampaikan makna dan memahami makna.
1. Tingkat makna linguistik
Tingkat makna lingustik ialah makna-makna leksikal dan makna-makna struktural sebuah bahasa pada aras makna lingustik para penutur harus menguasai dan membedakan setiap makna kata dan penggunaan makna kata. Pada tingkat ini seseorang sudah dapat membedakan fungsi-fungsi unsur-unsur bahasa yang digunakan, seperti fungsi subjek, objek, predikat dan keterangan.
2. Tingkat Makna Proposisi
Tingkat Makna yang kedua ini mempersoalkan apakah sebuah kalimat/proposisi ujaran benar atau tidak. Tingkat Makna Proposisi mencangkup kelogisan makna dan keempirisan makna ukuran yang dipakai adalah kelogisan berbahasa.
3. Tingkat Makna Pragmatik
Ujaran yang dilontarkan oleh seorang penutur tentu mengandung tujuan tertentu. Dalam tingkat makna pragmatik ini termasuk pemahaman akan tujuan dan fungsi sebuah ujaran.
4. Tingkat Makna Konstektual
Untuk memahami makna sebuah wacana, perlu pemahaman akan konteks keberlangsungan ujaran-ujaran. Berbagai pengetahuan dan pengetahuan bersama merupakan salah satu syarat pemahaman wacana secara konstektual.[4]
Lahirlah teori tentang makna yang terkisar pada hubungan antara ujaran, pikiran dan realitas didunia nyata. Secara umum dibedakan teori makna atas:
1. Teori Referensial
Jika kita memperhatikan ujaran dalam sebuah bahasa,misalnya,’Ronald Reagan’, ’Rudy Hartono’, ’Jakarta’, atau fase nomen seperti ‘mantan wakil presiden RI 1983-1988’, ’orang pertama yang berjalan di bulan’, maka sudah pasti makna ujaran itu tidak merujuk pada benda atau hal yang sama. Jika kita menerima bahwa makna tersebut ujaran adalah referennya, maka setidak-tidaknya kita terikat pada pernyataan berikut:
a. Jika sebuah ujaran mempunyai makna,makna ujaran itu mempunyai referen.
b. Jika dua ujaran mempunyai referen yang sama,maka ujaran itu mempunyai makna yang sama pula.
c. Apa saja yang benar dari referen sebuah ujaran adalah benar untuk maknanya.
2. Teori Mentalisme
F.de Saussure yang mula pertama mengajukan studi bahasa secara sinkronis dan membedakan analisis bahasa,atas ia parole,ia langue dan le lengange,secara tidak nyata telah memelopori teori makna yang bersifat metalistik. Ia menghubungkan bentuk bahasa lahiriah (Ia Parole) dengan konsep atau Citra mental penuturnya (Ia Langue). Teori mentalisme itu tentu saja bertentangan dengan teori referensi. Mereka mengatakan bahwa ‘kuda terbang’ atau ‘peasus’ adalah suatu citra mental penuturnya walaupun secara real tidak ada. Pada umumnya penganjur dari teori mentalisme ini adalah para psikolinguis.
3. Teori Konstektual
Teori Konstektual sejalan dengan teori relativisme dalam pendekatan semantik bandingan antara bahasa. Makna sebuah kata terikat pada lingkungan cultural dan ekologis pemakaian bahasa tertentu itu. Teori kontekstual mengisyaratkan pula bahwa sebuah kata atau symbol ujaran tidak mempunyai maknajika ia terlepas dari konteks.
4. Teori Pemakaian dari Makna.
Teori ini dikembangkan oleh filsuf Jerman Wittgenstein (1830-1858). Wittgenstein berpendapat bahwa kata tidak mungkin dipakai dan bermakna untuk semua konteks karena konteks itu selalu berubah dari waktu kewaktu. [5]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahasa adalah suatu kompetensi yang terdapat dalam jiwa manusia yang isinya adalah simbol-simbol dalam berbagai bentuk yang berfungsi untuk mengkomunikasikan segala produksi dari aspek jiwa seseorang kepada aspek jiwa orang lain. Yang dimaksud dengan aspek jiwa adalah pikiran, perasaan, pemahaman, pengenalan, pertimbangan, fantasi, kata hati, insting, pemenuhan kebutuhan biologis, insting pemenuhan kebutuhan agama, mencipta, berprestasi, harga diri, social, dan pengambilan keputusan. Bahasa adalah juga pengalaman, pengalaman yang dihayati. Pengalaman yang dihayatilah yang terungkap dalam bahasa dan yang memberi kepada bahasa makna-makna aksistensialnya. Di sini pengalaman bukanlah sesuatu “yang lain” yang bersifat metafisis bukan pula sesuatu yang diluar, sehingga bahasa seolah hanya mengacu kepadanya saja. Bahasa adalah makna dari pengalaman itu sendiri.
Sewaktu berkomunikasi, kita itu mengkomunikasikan amanat, dan proses berkomunikasi itu terkondisi oleh berbagai situasi. Makna adalah hasil komunikasi yang penting. Makna yang kita miliki adalah hasil interaksi kita dengan orang lain. Kita menggunakan makna untuk menginterpretasikan pertiwa disekitar kita. Bahkan didalam ujaran terkandung makna yang dipahami bersama oleh para pengujar.
B. Saran
Sebagai penulis kami hanya bisa berasumsi bahwa saya hanya seorang manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, al insaanu makaanu al khotooi wa al nisyaani. Oleh karena itu, apabila dalam penulisan dan penyusunan ini terdapat kekurangan dan kelebihan maka kritik dan saran dari pembaca dan pembimbing sangat kami harapkan sehingga dalam proses pembuatan makalah yang selanjutnya kami bisa lebih berkembang lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Selain itu, tanpa adanya dukungan dan saran pembimbing sangat jauh bagi kami untuk mencapai kesempurnaan.
Akhirnya, hanya kepada Allah lah penulis selalu mengharap ridhoNya. Semoga dari penulisan yang terbatas ini, bisa mendatangkan manfaat yang tiada batas. Amien.....
[1] Drs. A. Chaendar Alwasilah. Sosiologi Bahasa. (Bandung: Angkasa, 1990), hal.26
[2] Morissan. Teori Komunikasi. (Jakarta: Ghalia Indonesia ,2009) hal.145
[3] http://proxy.caw2.com/index.php?vit=uggc%3A%2F%2Fwnynvaqen.jbeqcerff.pbz%2F2007%2F02%2F 18%2Fzrznunzv-grxf-fnfgen%2F
[4]J.D. Parera. Teori Semantik. (Jakarta: Erlangga,2004) hal.2-5
[5] ibid, hal. 46-48
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar