siapa vokalis band paling kharismatik menurut kamu?

Rabu, 23 Juni 2010

Nama : Hikmah Hamidah
Nim : 108015000034
Semester : IV B

DRAMATISME DAN NARRATIVE
A. DRAMATISME
Drama (Yunani Kuno) adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani yang berarti "aksi", "perbuatan". Drama bisa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera (lihat melodrama).
Tahun 1945, Kenneth Duva Burke(May 5, 1897 – November 19, 1993) seorang teoritis literatur Amerika dan filosof memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan (Fox, 2002).Dramatisme memperlihatkan bahasa sebagai model tindakan simbolik ketimbang model pengetahuan (Burke, 1978)
Pandangan Burke adalah bahwa hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama. 1959: The Presentation of Self in Everyday Life Tertarik dengan teori dramatisme Burke, Erving Goffman, seorang sosiolog interaksionis dan penulis, memperdalam kajian dramatisme tersebut dan menyempurnakannya dalam bukunya yang kemudian terkenal sebagai salah satu sumbangan terbesar bagi teori ilmu sosial The Presentation of Self in Everyday Life. Dalam buku ini Goffman yang mendalami fenomena interaksi simbolik mengemukakan kajian mendalam mengenai konsep Dramaturgi.

Asumsi Dramatisme menurut Burke :
• Manusia adalah hewan yang menggunakan symbol
• Bahasa dan symbol membentuk sistem yang penting bagi manusia.
• Manusia adalah pembuat pilihan.
Konsep Kunci Dramatisme :
• Subtansi, sifat umum seseorang sebagaimana digambarkan oleh dirinya sendiri maupun orang lain.
• Identifikasi, keadaan dimana diantara dua orang terdapat ketumpang tindihan pada substansi masing- masing.
• Konsubstansiasi, usaha meningkatkan ketupag tindihan satu sama lain dengan membuat permohonan retoris.
Elemen- Elemen Dramatisme Menurut Burke :
1. Penggambaran Motif, terdiri dari enam poin untuk menganalisis teks simbolik :
• Tindakan yaitu segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang.
• Adegan yaitu konteks yang melingkupi tindakan.
• Agen yaitu orang yang melakukan tindakan.
• Agensi yaitu cara- cara yang dilakukan untuk melakukan tindakan.
• Tujuan yaitu hasil akhir yang dimiliki agen dari suatu tindakan.
• Sikap yaitu cara dimana agen memosisikan dirinya dibandingkan dengan orang lain.
2. Proses Rasa bersalahdan Penembusan, melalui siklus yang mengikuti pola yang dapat diprediksi :
• Tatanan atau Hierarki, Tingkatan dalam masyarakat yang diciptakan melalui kemampuan dalam menggunakan bahasa.
• Negativitas yaitu Penolakan posisi seseorang dalam tatanan social tertentu.
• Pengorbanan, cara dimana seseorang berusaha memurnikan diri dari ras bersalah.
• Mortifikasi, menyalahkan diri sendiri.
• Pengkambinghitaman, menyalahkan orang lain.
• Penebusan, penolakan sesuatu yang tdak bersih dan kembali kepada tatanan baru setelah rasa bersalah diampuni.

B. DRAMATURGI

Konsep Dramaturgi
Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama atau teater atau pertunjukan fiksi diatas panggung dimana seorang aktor memainkan karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan. Meski benar, dramaturgi juga digunakan dalam istilah teater namun term dan karakteristiknya berbeda dengan dramaturgi yang akan kita pelajari. Dramaturgi dari istilah teater dipopulerkan oleh Aristoteles. Sekitar tahun 350 SM, Aristoteles, seorang filosof asal Yunani, yang menelurkan, Poetics, hasil pemikirannya yang sampai sekarang masih dianggap sebagai buku acuan bagi dunia teater. Dalam Poetics, Aristoteles menjabarkan penelitiannya tentang penampilan/drama-drama berakhir tragedi/tragis ataupun kisah-kisah komedi. Untuk menghasilkan Poetics Aristoteles meneliti hampir seluruh karya penulis Yunani pada masanya. Kisah tragis merupakan obyek penelitian utamanya dan dalam Poetic juga Aristoteles menyanjung Kisah Oedipus Rex, sebagai kisah drama yang paling dapat diperhitungkan. Meskipun Aristoteles mengatakan bahwa drama merupakan bagian dari puisi, namun Aristoteles bekerja secara utuh menganalisa drama secara keseluruhan. Bukan hanya dari segi naskahnya saja tapi juga menganalisa hubungan antara karakter dan akting, dialog, plot dan cerita. Ia memberikan contoh-contoh plot yang baik dan meneliti reaksi drama terhadap penonton. Nilai-nilai yang dikemukakan oleh Aristoteles dalam maha karyanya ini kemudian dikenal dengan “aristotelian drama” atau drama ala aristoteles, dimana deus ex machine adalah suatu kelemahan dan dimana sebuah akting harus tersusun secara efisien. Banyak konsep kunci drama, seperti anagnorisis dan katharsis, dibahas dalam Poetica. Sampai sekarang “aristotelian drama” sangat terlihat aplikasinya pada tayangan-tayangan tv, buku-buku panduan perfilman dan bahkan kursus-kursus singkat perfilman (dramaturgi dasar) biasanya sangat bergantung kepada dasar pemikiran yang dikemukakan oleh Aristoteles
.



Dramaturgi merupakan bentuk dari komunikasi .
Jika Aristoteles mengungkapkan Dramaturgi dalam artian seni. Maka, Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Seperti yang kita ketahui, Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi melalui bukunya, The Presentation of Self In Everyday Life. Buku tersebut menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Aristoteles mengacu kepada teater sedangkan Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi dari Diri – Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Jika seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Kenapa komunikasi , tidak lain Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut. Bukti nyata bahwa terjadi permainan peran dalam kehidupan manusia dapat dilihat pada masyarakat kita sendiri.





C.NARRATIVE

Pengertian narrative
Menurut Webster dan Metrova, narasi (narrative) merupakan suatu metode penelitian di dalam ilmu-ilmu sosial. Inti dari metode ini adalah kemampuannya untuk memahami identitas dan pandangan dunia seseorang dengan mengacu pada cerita-cerita (narasi) yang ia dengarkan ataupun tuturkan di dalam aktivitasnya sehari-hari (baik dalam bentuk gosip, berita, fakta, analisis, dan sebagainya, karena semua itu dapat disebut sebagai ‘cerita’). Fokus penelitian dari metode ini adalah cerita-cerita yang didengarkan di dalam pengalaman kehidupan manusia sehari-hari. Di dalam cerita/narasi, kompleksitas kultural kehidupan masyarakat dapat ditangkap dan dituturkan di dalam bahasa. Dalam arti ini cerita bukan hanya menjadi cerita saja, melainkan menjadi bagian dari penelitian untuk memahami manusia dan dunianya.
Setiap manusia pasti memiliki cerita dalam kehidupannya dan.Cerita itu pun pastinya beragam dan bermacam-macam. Di dalam cerita terkandung nilai-nilai yang mencerminkan pandangan dunia manusia itu sendiri, sekaligus cerita-cerita yang membentuk identitasnya sebagai manusia. Metode naratif hendak memahami kehidupan manusia yang memang penuh dengan ‘cerita’. Pendekatan ini lebih bersifat holistik, detil, dan bersifat sangat kualitatif guna memahami kehidupan manusia yang terus berubah sejalan dengan perubahan waktu.
Pendekatan narrative
Menurut pandangan ini ilmu diasosiasikan dengan objektivitas. Objektivitas yang dimaksudkan di sini adalah objektivitas yang menekankan prinsip standardisasi observasi dan kosistensi. Landasan philosofisnya adalah bahwa dunia ini pada dasarnya mempunyai bentuk dan struktur Pendekatan naratif lebih-lebih merelativir pendekatan pragmatis dalam pendidikan, pendekatan naratif ini menjadi salah satu pendekatan yang cukup baik. Hal itu didasari, bahwa narasi atau kisah mudah menggerakan untuk bertindak dan mengembangkan proses imajinatif subyek didik. Kisah mampu mendorong ke arah tindakan karena melalui mimetisme (peniruan), kisah berperan menjadi jembatan antara yang dipikirkan dan pengalaman praktis.

Dalam hal moral, pendekatan naratif tidak menyodorkan norma-norma yang bersifat hipotesis (menggurui), melainkan bersifat kinousis (menyapa hati) dan narasi atau kisah lebih bersifat menyapa atau mengadaptasi pluralitas. Melalui cerita atau narasi ini subyek didik dapat menginternalisasi nilai-nilai budaya dalam konteks hidupnya. Makna yang dapat diambil dari kisah-cerita amat kaya, tergantung bagaimana cerita tersebut dapat menjadi frame of refence atas pemahaman dan intrepetasi kita. Cerita yang bergulir akhirnya menjadi representasi yang dapat diintrepetasi sebagaimana adanya. Cerita mempunyai jiwanya sendiri, cerita mempunyai kisahnya sendiri untuk bebas diintrepetasi. Sang pencerita hanyalah menjadikanya kisah terajut, namun nilai dan makna lepas dari rajutan, sesuai dengan frame yang ada di dalam diri sang penikmatnya. Refleksi akan semakin kaya jika cerita memuat banyak representasi nyata tentang kisah-kisah dan potret kehidupan manusia, karena cerita yang menyuguhkan berbagai kisah kehidupan dapat mampu menjadi dialog obyektif tentang kehidupan yang sebenarnya. Cerita pun kadang menjadi medan katarsis manusia, menjadikannya medan untuk menghibur dan menyemangati. Namun jelas, cerita kadang menjadi representasi kritis atas kehidupan dan nilai-nilai moral. Cerita akan kaya makna, jika cerita sungguh menjadi representasi yang mampu menimbulkan intrepetasi dan pemahaman serta internalisasi yang membangun (edukatif), dan kita pun akan kaya juga dengan pemahaman dan intepretasi yang dapat mengajak kita kritis dan cinta akan makna kehidupan.
Dalam pendekatan narasi ini, cerita rakyat atau cerita yang berlatar belakang budaya, cerita bijak atau cerita sufi, cerita religius tidak lah sekedar bersifat tekstual, melainkan dapat berbentuk film, cergam, cerbung, komik atau hasil olahan dramatisasi. Adapun apa yang dapat diambil dari proses internalisasi suatu cerita, yaitu sebagai berikut:
Cerita dan pernyataan moral
Kisah atau cerita mengungkap banyak hal berkisar kehidupan, maka betapa banyak nilai yang ingin dicoba diungkap. Melalui kisah yang dirajut dan direpresentasikan, kita dapat mengapresiasinya dengan demikian rupa, sehingga kita dapat menemukan suatu pernyataan moral. Namun tidak semua cerita dapat mengungkapkan hal tersebut, kadang tergantung kekayaan kita untuk mengintrepetasinya. Pernyataan moral biasanya timbul melalui dialog-dialog tokoh atau sebuah representasi visual kisah, baik secara langsung maupun yang bersifat hanya tersurat. Maka jika cerita banyak menyuguhkan pernyataan moral, cerita bukanlah sekedar cerita melainkan menjadi alat penyampai nilai. Cerita pun dapat berdampak sangat edukatif.
Pernyataan moral di dalam cerita tidaklah gampang ditangkap, melainkan haruslah memuat acuan yang representatif pada diri subyek didik. Jika subyek didik menemukan suatu pernyataan moral, belum tentu hal tersebut menjadi pernyataan moral atas dirinya, karena subyek didik mempunyai latar belakang tersendiri yang tidak dapat diandaikan oleh sang pengkisah. Cerita menjadi medan dialog yang sungguh partisipatif, namun juga menjadi medan dialog yang pasif tergantung bagaimana pernyataan moral menjadi bagian representasi nyata dari kehidupan subyek didik. Melalui kaca mata cerita sebagai sarana yang cukup baik untuk upaya refleksi, suatu pernyataan moral di dalam cerita merupakan wahana yang tepat dan kaya akan intrepetasi dan pemahaman. Refleksi pun dapat bergulir dari analisa film mengenai pertanyaan-pertanyaan moral, dan sejauh mana cerita mampu menjawab ataupun semakin kritis memperkembangkan wacana.
Menurut WM sebelum memulai penelitian, ada baiknya kita merumuskan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang nantinya dapat digunakan untuk meneliti. Di dalam metode naratif, pertanyaan-pertanyaan untuk penelitian yang biasa digunakan adalah;
1. Cerita macam apa yang terakhir kali kau dengar?
2. Kapan kamu mendengarnya?
3. Apa yang kamu ingat tentang cerita tersebut?
4. Cerita macam apa yang terakhir kali kamu ceritakan?
5. Kepada siapa kamu menceritakannya?
Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut sangatlah mudah dijawab (selama anda tidak memiliki masalah dengan memori anda). Hidup manusia dipenuhi denga cerita, baik cerita yang diajarkan orang tua, cerita dari teman, cerita tentang teman, dan sebagainya. Seringkali cerita-cerita itu tidak ditujukan untuk kita, tetapi kita secara tidak langsung mendengarkan, ketika teman sedang bercerita, atau orang yang duduk di sebelah kita di kendaraan umum. Bahkan dapat juga dikatakan, bahwa cerita adalah bagian integral di dalam proses komunikasi antar manusia. Aktivitas harian manusia dilalui dengan berpindah dari satu cerita ke cerita lainnya (cerita tentang naiknya harga saham, sampai cerita tentang perang di negara lain). Cerita-cerita itu seringkali berlalu begitu saja. Namun kita juga lupa, bahwa cerita-cerita itu mempengaruhi cara pandang kita terhadap dunia. Cerita-cerita itu juga secara langsung mempengaruhi identitas kita sebagai manusia, dan sebagai bagian dari suatu kelompok.
Apa pentingnya memahami cerita-cerita yang dituturkan ataupun didengarkan oleh orang lain? Yang penting untuk penelitian adalah memahami, bagaimana cerita-cerita itu mempengaruhi pandangan dunia sekaligus identitas orang-orang yang menuturkan ataupun mendengarkannya. Di sisi lain cerita-cerita itu seringkali memiliki nilai terpendam yang memiliki aspek pendidikan (walaupun bukanlah pendidikan langsung ataupun pendidikan formal). Banyak cerita memililiki nilai pendidikan yang tinggi. Cerita-cerita itu dituturkan atau dibacakan kepada kita dengan tujuan membentuk suatu sikap hidup tertentu. Biasanya cerita-cerita itu merupakan bagian dari suatu mata pelajaran di sekolah. Namun cerita yang kita dengar dan tuturkan di dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya juga memiliki nilai didik yang tinggi. Relasi yang kuat antara narasi dan edukasi (pendidikan) di dalam aktivitas manusia inilah yang kiranya menjadi titik tolak penelitian metode naratif. Nilai edukasi yang ditawarkan di dalam narasi tidak hanya soal nilai-nilai kehidupan sehari-hari, tetapi juga tentang ilmu pengetahuan, kedokteran, hukum, politik, ekonomi, dan sebagainya.
dalam tulisannya WM menyatakan dua kontribusi metode naratif di dalam penelitian ilmu-ilmu sosial. Yang pertama metode naratif membantu menegaskan sejarah dari kesadaran manusia. Metode naratif mau menganalisis cerita yang dituturkan maupun yang didengarkan orang sedari ia kecil. Namun begitu cerita tidak hanya membentuk manusia individual, tetapi juga manusia sebagai keseluruhan, yakni manusia sebagai spesies. Cerita (narasi) terkait dengan perkembangan manusia sebagai mahluk yang mampu berpikir. Ada banyak sekali cerita terkait dengan penemuan-penemuan yang sangat menentukan peradaban manusia, seperti di dalam filsafat, seni, ilmu pengetahuan, dan praktek politik-ekonomi-budaya. Di dalam cerita-cerita itu terkandung pemikiran dan nilai-nilai yang diajarkan oleh para pemikir terbesar sepanjang sejarah, seperti Hegel, Kant, Plato, Aristoteles, Marx, dan sebagainya. Ini adalah cerita mengenai perkembangan kesadaran manusia sebagai mahluk berpikir. Perkembangan yang tidak hanya memiliki sisi positif, tetapi juga sisi negatif, seperti perang, genosida, wabah, bencana alam, dan sebagainya.
Yang kedua pada level individual, menurut WM, cerita adalah cerminan dari pribadi personal setiap orang. Di dalam cerita terkandung sejarah dan ingatan tentang masa kecil, remaja, dewasa, sampai masa tua seseorang. Kita bisa dengan mudah menemukan cerita-cerita semacam ini di dalam buku-buku biografi, autobiografi, studi kasus, dan sebagainya. Di dalam filsafat pendidikannya, John Dewey menggunakan narasi (cerita) sebagai titik tolaknya. Baginya cerita memiliki pengaruh besar di dalam perkembangan kesadaran diri manusia. Tidak hanya itu baginya, masyarakat manusia pada umumnya berkembang dengan berpijak pada tradisi oral (tutur cerita) yang sangat mengedepankan pendidikan melalui cerita. Maka dari itu cerita memiliki peran yang sangat penting di dalam pembentukan cara berpikir dan karakter manusia.
Di dalam masyarakat yang memiliki tradisi oral yang sangat kuat, narasi memiliki peran penting di dalam proses pendidikan nilai. Tidak hanya itu narasi juga membentuk dimensi intelektual dan praktis dari orang-orang yang hidup di masyarakat tersebut. Narasi membentuk iklim komunikasi dan tindakan, sekaligus juga mempengaruhi dunia batin manusia yang terdiri dari pemikiran, perasaan, dan tujuan-tujuan personal dari tindakannya. Jika narasi memang memiliki peran yang begitu penting di dalam kehidupan, maka penelitian atasnya juga membantu kita untuk memperoleh pengertian lebih tentang iklim pendidikan di suatu masyarakat, baik pendidikan dalam bentuk keterampilan teknis, ataupun pendidikan yang sifatnya lebih teoritis yang sifatnya lebih membentuk pemikiran dan pandangan dunia .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar