Eka Annisa
(Pend. IPS Sosiologi&Antropologi IVB)
INTERAKSIONISME SIMBOLIK
Sebagai pengantar tentang Teori Interaksi Simbolik, maka harus didefinisikan terlebih dahulu arti dari kata “interaksi” dan “simbolik”. Menurut kamus komunikasi (Effendy. 1989: 184) definisi interaksi adalah proses saling mempengaruhi dalam bentuk perilaku atau kegiatan di antara anggota-anggota masyarakat, dan definisi simbolik (Effendy. 1989: 352) adalah bersifat melambangkan sesuatu. Simbolik berasal dari bahasa Latin “Symbolic(us)” dan bahasa Yunani “symbolicos”.
Dan seperti yang dikatakan oleh Susanne K. Langer dalam Buku Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar (Mulyana. 2008: 92), dimana salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang, dimana manusia adalah satu-satunya hewan yang menggunakan lambang.
Ernst Cassirerdala m Mulyana (2008: 92) mengatakan bahwa keunggulan manusia dari mahluk lain adalah keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kam. 2001: 438), definisi interaksi adalah hal yang saling melakukan aksi, berhubungan, mempengaruhi; antarhubungan. Dan definisi simbolis (Kam. 2001: 1066) adalah sebagai lambang; menjadi lambang; mengenai lambang.
Interaksi simbolik menurut Effendy (1989: 352) adalah suatu faham yang menyatakan bahwa hakekat terjadinya interaksi sosial antara individu dan antar individu dengan kelompok, kemudian antara kelompok dengan kelompok dalam masyarakat, ialah karena komunikasi, suatu kesatuan pemikiran di mana sebelumnya pada diri masing-masing yang terlibat berlangsung internalisasi atau pembatinan.
Penulis mendefinisikan interaksi simbolik adalah segala hal yang saling berhubungan dengan pembentukan makna dari suatu benda atau lambang atau simbol, baik benda mati, maupun benda hidup, melalui proses komunikasi baik sebagai pesan verbal maupun perilaku non verbal, dan tujuan akhirnya adalah Page
Memaknai lambang atau simbol (objek) tersebut berdasarkan kesepakatan bersama yang berlaku di wilayah atau kelompok komunitas masyarakat tertentu.
A. Interaksionisme Simbolik
Interaksi simbolik merupakan aliran sosiologi Amerika yang lahir dari tradisi psikologi. Menurut Dictum Cooley, imajenasi yang dimiliki manusia merupakan fakta masyarakat yang solid dan berfungsi sebagai suatu warisan realitas dunia subyektif. Wiliam Isaac Thomas, juga menekankan perlunya mempelajari fakta subyektif, tetapi tidak berarti obyejtif mesti diabaikan. Apa yang diwariskan Thomas bagi para sosiolog ialah pengertian-pengertian subyektif yang dikaitkan pada fenomena yang mempunyai hasil atau konsekuensi-konsekuensi obyektif. Psikologi sosial harus menyadari kedua dimensi realitas ini.
Walau dalam sejarak interaksi simbolik, Cooley dan Thomas merupakan tokoh terpenting, tetapi hanya filosop George Herbert Mead, seorang warga Amerika awal abad ke sembilan belas, yang paling disebut sesepuh yang paling berpengaruh dari persepktif ini. Mead setuju dan mengembangkan suatu kerangka yang menekankan arti penting perilaku terbuka (over) atau obyektif, dan tertutup (covert) atau subyektif, didalam aliran sosiologis Mead berada di antara subyektifisme ekstrem dari Cooley, yang melihat masalah pokok sosiologi sebagai hanya imajenasi-imajenasi, dan obyektifitas ekstrem Durkheim, yang menganggap fenomena sosial yang konkrit atau fakta-fakta yang tepat bagi analisa sosiologis.
Penjelasan Mead adalah bahwa diri atau self menjalani internalisasi atau interpretasi subyektif atas realitas (obyektif) struktur yang luas. Diri atau self benar-benar merupakan internalisasi seseoranng atas apa yang telah digeneralisir orang lain, atau kebiasaan-kebiasaan sosia komunitas yang lebih luas.1
1 M.Poloma, Margaret. 2004. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT. Raja Grasindo Persada. Hlm 254-256 Page | 4
B. Penjelasan Teori Interaksi Simbolik
Teori Interaksi Simbolik yang masih merupakan pendatang baru dalam studi ilmu komunikasi, yaitu sekitar awal abad ke-19 yang lalu. Sampai akhirnya teori interaksi simbolik terus berkembang sampai saat ini, dimana secara tidak langsung SI merupakan cabang sosiologi dari perspektif interaksional (Ardianto. 2007: 40).
Interaksi simbolik menurut perspektif interaksional, dimana merupakan salah satu perspektif yang ada dalam studi komunikasi, yang barangkali paling bersifat ”humanis” (Ardianto. 2007: 40). Dimana, perspektif ini sangat menonjolkan keangungan dan maha karya nilai individu diatas pengaruh nilai-nilai yang ada selama ini. Perspektif ini menganggap setiap individu di dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan, berinteraksi di tengah sosial masyarakatnya, dan menghasilkan makna ”buah pikiran” yang disepakati secara kolektif. Dan pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa setiap bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh setiap individu, akan mempertimbangkan sisi individu tersebut, inilah salah satu ciri dari perspektif interaksional yang beraliran interaksionisme simbolik.
Teori interaksi simbolik menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi, serta inti dari pandangan pendekatan ini adalah individu (Soeprapto. 2007). Banyak ahli di belakang perspektif ini yang mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep sosiologi. Mereka mengatakan bahwa individu adalah objek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain.
Menurut Ralph Larossa dan Donald C. Reitzes (1993)dalam West- Turner (2008: 96), interaksi simbolik pada intinya menjelaskan tentang kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lain, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana cara dunia membentuk perilaku manusia.
Interaksi simbolik ada karena ide-ide dasar dalam membentuk makna yang berasal dari pikiran manusia (Mind) mengenai diri (Self), dan hubungannya di tengah interaksi sosial, dan tujuan bertujuan akhir untuk memediasi, serta Page | 5
menginterpretasi makna di tengah masyarakat (Society) dimana individu tersebut menetap. Seperti yang dicatat oleh Douglas (1970)dalam Ardianto (2007: 136), Makna itu berasal dari interaksi, dan tidak ada cara lain untuk membentuk makna, selain dengan membangun hubungan dengan individu lain melalui interaksi.
Definisi singkat dari ke tiga ide dasar dari interaksi simbolik, antara lain: (1) Pikiran (Mind) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain, (2) Diri (Self) adalah kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the-self) dan dunia luarnya, dan (3) Masyarakat (Society) adalah jejaring hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya.
”Mind, Self and Society” merupakan karya George Harbert Mead yang paling terkenal (Mead. 1934dalam West-Turner. 2008: 96), dimana dalam buku tersebut memfokuskan pada tiga tema konsep dan asumsi yang dibutuhkan untuk menyusun diskusi mengenai teori interaksi simbolik.
Tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik antara lain:
1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia,
2. Pentingnya konsep mengenai diri,
3. Hubungan antara individu dengan masyarakat.
Tema pertama pada interaksi simbok berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat disepakati secara bersama. Hal ini Page | 6
sesuai dengan tiga dari tujuh asumsi karya Herbert Blumer (1969)dalam West-Turner (2008: 99) dimana asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
1. Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka,
2. Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia,
3. Makna dimodifikasi melalui proses interpretif.
Tema kedua pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya ”Konsep diri” atau ”Self-Concept”. Dimana, pada tema interaksi simbolik ini menekankan pada pengembangan konsep diri melalui individu tersebut secara aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya. Tema ini memiliki dua asumsi tambahan, menurut LaRossan & Reitzes (1993) dalam West-Turner (2008: 101), antara lain:
1. Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain,
2. Konsep diri membentuk motif yang penting untuk perilaku
Tema terakhir pada interaksi simbolik berkaitan dengan hubungan antara kebebasan individu dan masyarakat, dimana asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini adalah untuk menjelaskan mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses sosial. Asumsi- asumsi yang berkaitan dengan tema ini adalah:
1. Orang dan kelompok masyarakat dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial,
2. Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.
Rangkuman dari hal-hal yang telah dibahas sebelumnya mengenai tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang berkaitan dengan interaksi simbolik, dan tujuh asumsi-asumsi karya Herbert Blumer (1969) adalah sebagai berikut: Page | 7
Tiga tema konsep pemikiran Mead
1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia,
2. Pentingnya konsep diri,
3. Hubungan antara individu dengan masyarakat.
Tujuh asumsi karya Herbert Blumer
1. Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka,
2. Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia,
3. Makna dimodifikasi melalui sebuah proses interpretif,
4. Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain,
5. Konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku,
6. Orang dan kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial,
7. Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.
C. Akar-akar Historis Utama
Dua akar intelektual paling signifikan dalam karyanya Mead Pada khususnya, dan interaksionisme simbolik pada umumnya, adalah filsafat pragmantisme, dan behaviorisme psikologis.
Pragmantisme, pandangan filosofis yang cangkupannya begitu luas yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan beberapa aspek yang mempengaruhi perkembangan orientasi sosiologi Mead.2
2 Ritzer, George. J. Goadman, dauglas. 2010. Teori Sosiologi. Bantul: Kreasi Wacana. Hlm. 374
3 Ibid, Hal. 375
Behaviorisme, Mead menyebut pokok perhatian dasarnya dengan behaviorisme sosial untuk membedakannya dari behaviorisme radikal John B. Watson, yang memberikan perhatian pada perilaku individu yang dapat diamati. Bagi Mead yang menjadi unit studi ialah perbuatan (the act) yang meliputi aspek terbuka dan tertutup dari tindakan manusia (human action).3 Page | 8
D. Prinsip-Prinsip Dasar Teori Interaksionisme Simbolik
1. Kemampuan Untuk Berpikir
Pendukung-pendukung teori mengatakan bahwa asumsi tgentang kemampuan manusia untuk berpikir merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pencetus awal teori ini. Menurut para ahli, individu-individu di dalam masyarakat tidak dilihat sebagai makhluk-makhluk yang dimotivasi oleh faktor-faktor dari luar yang berada diluar kontrol mereka dalam bertindak. Sebaliknya mereka melihat manusia sebagai makhluk yang reflektif dan karena itu bisa bertingkah laku secara reflektif. Kemampuan itu berada di dalam akal budi tetapi interaksionisme simbolik memahami akal budi secara lain. Mereka membedakan akal budi dari otak. Akal budi berhubungan erat dengan konsep-konsep lain di dalam interaksionisme simbolik termasuk sosialisasi, arti, simbol, interaksi dan masyarakat.
2. Berpikir dan Berinteraksi
Orang hanya memiliki kemampuan untuk berpikir yang bersifat umum. Kemampuan ini mesti dibentuk dalam proses interaksi sosial. Pandangan ini menghantar interaksionisme simbolik untuk memperhatikan suatu bentuk dari interaksi sosial, yakni sosialisasi. Tentu saja interaksionisme simbolik tidak cukup tertarik pada sosialisasi saja melainkan pada interaksi pada umumnya. Interaksi adalah suatu proses dimana kemamuan untuk berpikir dikembangkan dan diungkapkan. Segala macam interaksi menyaring kemampuan kita untuk berpikir. Lebih dari itu berpikir mempengaruhi seseorang dalam bertingkah laku.4
4 Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya. Hlm. 107
3. Pembelajaran Makna Simbol-simbol
Orang mempelajari symbol sekaligus makna dalam interaksi sosial. Kendati merespon tanda tanpa berpikir, orang merespon symbol melalui proses berpikir. Interaksionisme simbolik memahami bahasa sebagai sistem simbol Page | 9
yang begitu luas. Kata-kata menjadi simbol karena mereka digunakan untuk memaknai berbagai hal.5 Kata-kata adalah simbol karena mereka menunjukkan kepada sesuatu yang lain. Perbuatan , obyek-obyek, dan kata-kata yang lain bisa dilukiskan melalui pengguna kata-kata. Simbol-simbol menjadi menjadi penting karena memungkinkam manusia bertindak secara sungguh-sungguh manusiawi.
5 Ritzer, George. J. Goadmen, douglas. 2010. Teori Sosiologi. Bantul: Kreasi Wacana
6 Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya. Hlm 107
4. Tindakan dan Interaksi
Tindakan sosial atau aksi pada dasarnya adalah sebuah tindakan di mana seseorang bertindak dengan selalu mempertimbangkan orang lain di dalam pikirannya. Dalam proses interaksi sosial, manusia mengkomunikasikan arti-arti kepada orang lain melalui simbol-simbol. Kemudian orang-orang menginterpretasikan simbol-simbol itu dan mengarahkan tingkah laku mereka berdasarkan interpretasi mereka.
5. Menetapkan Pilihan-pilihan
Kita juga bisa mengatakan bahwa bagi interaksionisme simbolik, aktor sekurang-kurangnya memiliki otonomi. Dia tidak begitu saja dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan yang berasal dari luar dirinya. Mereka mampu melakukan pilihan-pilihan yang bebas dan unik. Lebih dari itu, mereka juga mampu mengembangkan suatu kehidupan yang mempunyai keunikan dan gayanya sendiri.6
E. Gagasan George Herbert Mead
Mead memandang perbuatan sebagai unit paling inti dalam teorinya dalam menganalisis perbuatannya, mead sangat dekat dengan pendekatan behaviorisme dan memusatkan perhatiannya pasa stimulus dan respons. Mead mengidentifikasikan empat tahap dasar yang terkait dalam setiap perbuatan. Keempat tahap tersebut memahami suatu keseluruhan organik (dengan kata Page | 10
lain, secara dialetis mereka terkait satu sama lain). Keempat dasar itu diantaranya adalah:
a. Implus. Implus melibatkan stimulus indrawi dan reaksi aktor terhadap stimulus tersebut, kebutuhan berbuat sesuatu.
b. Persepsi. Di mana aktor mencari, dan beraksi terhadap stimulus yang terkait dengan implus, yang dalam hal ini adalah rasa lapar dan berbagi cara yang ada untuk memuaskannya.
c. Manipulasi. Begitu implus mewujudkan dirinya dan objek telah dipersepsi, tahap selanjutnya adalah manipulasi objek, atau lebih umum lagi, mengambil tindakan dalam kaitannya dengan objek tersebut.
d. Konsumasi. Mengambil tindakan yang akan memuaskan implus awal.7
7 Ritzer, George. J. Goadmen, douglas. 2010. Teori Sosiologi. Bantul: Kreasi Wacana
George Herbert Mead menghabiskan sebagian waktunya dengan mengajar di Universitas Chicago. Dan menulis buku, Mind, Self, and, Society, dia mendiskusikan antara lain tentang:
1. Mind (Akal Budi)
Mead memandang akal budi bukan sebagai satu benda, melainkan sebagai satu proses sosial. Menurut dia akal budi manusia secara kualitatif berbeda dengan binatang. Guna mempertahankan keberlangsungan suatu kehidupan sosial, maka para aktor harus menghayati simbol-simbol dengan arti yang sama. Hal itu berarti bahwa mereka harus mengerti bahasa yang sama. Proses berpikir, beraksi dan berinteraksi menjadi mungkin karena simbol-simbol yang penting dalam kelompok sosial mempunyai arti yang sama dan membangkitkan reaksi yang sama pada orang yang menggunakan simbol-simbol itu maupun pada orang yang bereaksi terhadap simbol-simbol itu.
2. Self (Diri)
Dalam arti ini, self (diri) sebagaimana mind bukanlah suatu objek melainkan suatu proses sadar yang mempunyai beberapa kemampuan, seperti: Page | 11
1. Kemampuan untuk memberikan jawaban atau tanggapan kepada diri sendiri sebagaimana orang lainjuga memberi jawaban atau tanggapan.
2. Kemampuan untuk memberikan jawaban sebagaimana Generalized Other atau aturan, norma-norma, hukum memberikan jawaban kepadanya.
3. Kemampuan untuk mengambil bagian dalam percakapan sendiri dengan orang lain.
4. Kemampuan untuk menyadari apa yang sedang dikatakannya dan kemampuan untuk menggunakan kesadaran itu untuk menentukan apa yang harus dilakukan pada tahapnya.
Menurut Mead, self itu mengalami perkembangan melalui proses sosialisasi. Ada tiga tahapan dalam proses sosialisasi itu, antara lain:
1. Yang pertama tahap Bermain. Dalam tahap ini anak bermain dengan peran-peran dari orang-orang yang dianggap penting olehnya.
2. Tahap kedua dalam proses pembentukan konsep tentang diri adalah tahap Perbandingan atau Permainan, dalam tahap ini anak terlibat dalam suatu tingkat organisasi yang lebih tinggi.
3. Tahap ketiga ialah Generalized Other, adalah harapan-harapan, kebiasaan-kebiasaan, standart-standart umum dalam masyarakat.
Salah satu bagian diskusi Mead yang cukup penting adalah perbedaan antara I dan Me, yakni antara diri sebagai subyek dan diri sebagai objek. Diri sebagai objek ditujukan oleh Mead dengan Me. Sedangkan diri sebagai subjek ditunjukan dengan I. I merupakan aspek diri yang bersifat non-replektif. Dia merupakan respons terhadap suatu perilaku actual tanpa repleksi atau pertimbangan. Jadi jika ada semacam aksi, dia langsung bereaksi tanpa melibatkan pikiran atau pertimbangan. Tetapi apabila di antara aksi dan reaksi itu ada sedikit pertimbangan, pikiran atau refleksi, maka pada waktu itu I telah menjadi Me. Diri Page | 12
sebagai subjek yang bertindak I hanya berada dalam saat bertindak kemudian dia melihat kembali tindakannya itu, maka pada waktu itu I telah menjadi Me.8
8 Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya. Hlm 116-117
9 Ritzer, George. J. Goadmen, douglas. 2010. Teori Sosiologi. Bantul: Kreasi Wacana
3. Society (Masyarakat)
Pada level ini paling umum, bagi Mead istilah masyarakat berarti proses sosial terus-menerus yang mendahului pikiran dan diri. Karena arti pentingnya bagi pembentukan pikiram dan diri, masyarakat jelas menempati posisi sentral dalam pikiran Mead. Pada level lain, bagi Mead, masyarakat merepresentasikan serangkaian respon terorganisasi yang diambil aliholeh individu dalam bentuk me. Jadi, dalam hal ini individu membawa seta masyarakat, memberinya kemampuan, melalui kritik diri, untuk mengontrol diri mereka sendiri. Sumbangsih terpentingnya terdapat dalam pemikiran tentang pikiran dan diri. John Baldwin, yang lebih banyak melihat komponen masyarakat (makro) dalam pemikiran Mead, akhirnya mengakui komponen makro sistem teoritis Mead tidak dijelaskan sebaik komponen mikro.9
F. Interaksionisme Simbolik Menurut Herbert Blumer
Bagi Blumer Interaksionisme Simbolik bertumpu pada tiga premis:
1. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu pada mereka.
2. Makna tersebut berasal dari “interaksi seseorang dengan orang lain”,
3. Makna tersebut disempurnakan disaat proses interaksi sosial berlangsung.
Interaksionisme Simbolik yang diketengahkan oleh Blumer mengandung sejumlah root images atau ide-ide dasar, sebagai berikut:
1. Masyarakat terdiri dari manusia yang berintegrasi
2. Integrasi terdiri dari kegiatan manusia yang berhubungan dengan kegiatan manusia yang lain.
Page | 13
3. Objek-objek tidak mempunyai makna instrinsik, makna lebih merupakan produk interaksi simbolik. Objek-objek dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yang luas, (a) Objek fisik, (b) objek sosial, dan (c) objek abstrak.
4. Manusia tidak hanya mengenal objek eksternal. Mereka dapat melihat dirinya sebagai objek.
5. Tindakan manusia adalah tindakan interpretative yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
6. Interaksi tersebut saling berkaitan dan disesuaikan oleh anggota-anggita kelompok.10
10 Wardi Bachtiar. 2006. Sosiologi Klasik, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hlm 249-250
11 M.Poloma, Margaret. 2004. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT. Raja Grasindo Persada. Hlm 263-266
Masyarakat merupakan hasil interaksi sosial dan aspek itulah yang merupakan masalah bagi para sosiolog. Bagi blumer keistimewaan setiap kaum interaksionis simbolkik ialah manusia dilihat saling menafsirkan atau membatasi masing-masing tindakan mereka dan bukan hanya saling bereaksi kepada setiap tindakan itu menurut stimulus-respon. Seseorang tidak langsung memberi respon pada tindakan orang lain, tetapi didasari oleh pengertian yang diberikan kepada tindakan itu. Blumer menyatakan, “dengan demikian interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol, oleh penafsiran, oleh kepastian makna dari tindakan-tindakan orang lain.11
G. Tokoh Aliran Interaksionisme Simbolik
William James, terkenal karena merumuskan konsep diri (self). Ia berpendapat bahwa perasaan seseorang mengenai dirinya sendiri, muncul dari interaksinya dengan orang lain. Suatu ungkapan terkenal James ialah “a man has a many social selves as there are individuals who recognize him” (jumlah diri yang dimiliki seseorang sama banyaknya dengan lingkungan sosial dimana dia berada). Dengan memakai penjelasan James, kita dapat memahami, misalnya, mengapa dikalangan kelompok keagamaannya seseorang dikenal sebagai orang yang dermawan, tetapi dikalangan keluarganya sendiri ia dikenal sebagai orang Page | 14
kikir, atau mengapa seseorang yang bersikap demokratis terhadap bawahan dilingkungan kantornya ternyata bersikap sangat otoriter terhadap istri dan anak-anaknya.
Charles Horton Cooley, terkenal dengan konsep looking glass self yang intinya ialah bahwa seseorang mengevaluasi dirinya sendiri atas dasar sikap dan perilaku orang lain terhadapnya. Menurut Cooley diri seseorang berkembang dalam interaksi dengan orang lain.
John Dewey, rekan Mead adalah tokoh pragmantisme yang menekankan pada proses penyesuaian diri manusia pada dunia. Sumbangan Dewey terletak pada pandangannya bahwa pikiran seseorang berkembang dalam rangka usahanya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan bahwa pikiran tersebut ditunjang oleh interaksinya dengan orang lain.
William Isaac Thomas, memperkenalkan konsep The definition of the situasion dalam sosiologi interaksi. Yang dimaksudkan Thomas dalam konsep tersebut ialah bahwa manusia tidak langsung memberikan tanggapan (response) terhadap rangsangan (stimulus) sebagai halnya makhluk lain. Sebelum bertindak untuk menanggapi melakukan penilaian terlebih dahulu mendefinisikan suatu rangsangan dari luar, individu selalu melakukan seleksi, mendefinisi situasi, memberi makna pada situasi yang dihadapinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar