NAMA: RUZAINAH
NIM: 108015000028
KELAS: IV B (SOSIO-ANTRO)
Strategi komunikasi lintas kebudayaan
Komunikasi adalah suatu proses dengan mana informasi antar individual ditukarkan melalui sistem simbol, tanda atau tingkah laku yang umum. Sedangkan Kebudayaan merupakan segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam,yang menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik material maupun non material, yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Dalam memahami komunikasi lintas kebudayaan, kita harus terlebih dahulu memahami aspek-aspek yang terlibat didalamnya. Salah satu aspek yang cukup fundamentalis adalah aspek psikologis yang sangat berpengaruh terhadap komunikasi lintas kebudayaan.
Dalam makalah ini akan dibahas beberapa aspek penting, diantaranya adalah konsep psikologi, konsep bilingualitas, konsep tutur, aspek psikoligis bilingualitas, serta strategi komunikasi lintas kebudayaan. Psikologi membahas mengenai bagaimana kejiwaan seseorang sehingga mempengaruhi komunikasi yang ia lakukan. Bilingualitas merupakan konsep kedwibahasaan, jadi didalamnya terdapat aspek-aspek bagaimana seseorang dapat menguasai dua bahasa atau lebih. Sedangkan strategi komunikasi lintas kebudayaan, mengarahkan kita untuk dapat berkomunikasi dengan baik dalam cakupan berbagai macam bahasa.
Strategi Komunikasi Lintas Kebudayaan
Terdapat beberapa strategi dalam komunikasi lintas kebudayaan agar komunikasi tersebut berjalan dengan baik dan sesuai yang diinginkan, diantaranya adalah:
1. memahami bahwa setiap individu memiliki emosi, kebutuhan, dan perasaan yang peka terhadap orang lain.
2. mencoba untuk mengerti norma-norma kebudayaan dari seseorang yang berkomunikasi dengan lawan bicaranya.
3. menghargai kebudayaan dan tradisi dari orang lain.
4. menjadi seorang pendengar yang baik.
5. mencoba untuk memahami.
6. menghargai orang lain.
7. melestarikan kebudayaan sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Neni,Zikri. Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan.Jakarta:Kizi brother’s.2008.
Alwasilah,Chaedar.Pengantar Sosiologi Bahasa.Bandung:Angkasa.1993.
Kearney,Patricia.Fundamentals of Human Communication.New York:McGraw-Hill Companies,Inc.2005.
Guntur,Henry.Psikolinguistik.Bandung:Angkasa.1984.
Nama : Eka Ayu Retnaningarum
NIM : 108015000042
PEND.IPS/IV B
KOMUNIKASI LINTAS KEBUDAYAAN
ASPEK PSIKOLOGIS BILINGUALITAS
Syarat untuk dianggap sebagai dwibahasa ialah adanya kemampuan dalam bahasa kedua yang hampir mendekati kemampuan seorang penutur asli (native speaker). Namun ada juga anggapan bahwa dwibahasawan adalah semua orang yang mempunyai pengetahuan beberapa kata saja. Diantara kedua pendapat yang ekstrim tersebut ada sekelompok ahli yang memberikan batasan sebagai berikut: “Bilingualism refers to ability to produce complete and meaningful ulterance in the other language”(Haugen, 1956).
Sehubungan dengan hal itu, beberapa ahli mengadakan pembedaan dwi bahasa ke dalam beberapa tipe. Yang paling umum dipakai adalah pembedaan antara compound bilingualism dengan coordinate bilingualism (Ervein & Osgood, 1954; Haugen, 1956, dan Weinreich, 1953).
Yang dimaksud dengan compound bilingualism adalah hasil belajar dalam dua bahasa dalam situasi yang sama oleh orang yang sama. Sebagai contoh, seorang anak belajar dua bahasa, misalnya bahasa A dan B dari bapak dan ibu secara berganti-ganti. Dalam situasi seperti ini kemungkinan terjadi interferensi bahasa lebih besar.
Adapun coordinate bilingualism adalah hasil belajar dua bahasa yang berbeda dalam situasi yang beda, misalnya di sekolah anak berbicara bahasa A dan dirumah bahsan B, atau dengan ibu berbahasa A, dengan teman berbahasa B. Jadi, disini penggunaan bahasanya konsisten tidak campur adauk. Meskipun demikian, perbedaan ini belum dapat diperlihatkan validitasnya dalam eksperimen-eksperimen meskipun tidak kurang banyaknya percobaan dan tes dilakukan mengenai pengukuran kedwibahasaan ini (Jacobovits, 1970).
Untuk membedakan bahasa mana yang dikuasai lebih dulu dan mana yang kemudian oleh pemakai bahasa dalam suatu masyarakat dwibahasa dipergunakan berbagai istilah. Contoh: Bahasa ibu (mother tongue), bahasa daerah (native tongue), bahasa asing, bahasa primer, bahasa pertama (first language) & bahasa kedua (second language).
1. Cara mengukur kedwibahasaan
W. E. Lambert telah mengembangkan suatu alat untuk mengukur kedwibahasaan dengan mencatat hal-hal berikut:
• Waktu reaksi seseorang terhadap dua bahasa
• Kecepatan melaksanakan perintah dalam dua bahasa
• Kemampuan seseorang melengkapkan suatu perkataan
• Mengukur kecenderungan (preferences) pengucapan secara spontan.
2. Hubungan antara kedwibahasaan dengan intelegensi
Sering orang berpendapat bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam situasi dwi bahasa mengalami hambatan dalam perkembangan inteleknya (Weinsberger, 1935; Smith, 1939). Hal tersebut disebabkan karena anak-anak ini harus berfikir dalam bahasa satu, dan berbicara dalam bahasa lain, sehingga menderita kesalahan mental.
3. Hubungan antara kedwibahasaan dengan fungsi kognitif
Salah satu studi mengenai hubungan kedwibahasaan dan fungsi kognitif pada anak-anak usia 10 tahun di Canada (Paul dan Lambert, 1962) dari kelompok menengah menemukan bahwa pada anak-anak dwibahasa memperlihatkan performance yang lebih baik secara signifikan, antara lain dalam tes fleksibilitas mental, pembentukan konsep, melengkapi gambar, dan memanipulasi bentuk.
Dalam bilinguitas terdapat beberapa aspek yang sangat fundamental, diantaranya adalah:
1. Tingkat Kemampuan
2. Fungsi
3. Pengertian antarbahasa
4. Interferensi
5. Language Shift (Pergeseran Bahasa)
6. Konvergensi dan Indonesiasi
Nama : Fifin Nur Erpina
NIM : 108015000050
Jurusan : Pendidikan IPS 4B / Sosiologi-Antropologi
Mata Kuliah : Bahasa dan Kebudayaan
HERMENEUTIKA
Secara etimologis, hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuein, yang berarti mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata. Kata kerja itu juga berarti menerjemahkan dan juga bertindak sebagai penafsir. Dalam definisi lain Habermas menyatakan hermeneutika sebagai suatu seni memahami makna komunikasi linguistik dan menafsirkan simbol yang berupa teks atau sesuatu yang diperlakukan sebagai teks untuk dicari arti dan maknanya, di mana metode ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, tetapi kemudian dibawa ke masa sekarang.
Istilah hermeneutika sebagai ilmu tafsir pertama kali diperkenalkan oleh seorang teolog Jerman bernama Johan Konrad Dannhauer pada sekitar abad tujuh belas dengan dua pengertian, yaitu hermeneutika sebagai seperangkat prinsip metodologis penafsiran dan hermeneutika sebagai penggalian filosofis dari sifat dan kondisi yang tak bisa dihindarkan dari kegiatan memahami. Carl Braathen dikatakan sebagai filosof yang yang mengakomodasi kedua pengertian tersebut menjadi satu dan menyatakan bahwa hermeneutika adalah ilmu yang merefleksikan bagaimana satu kata atau satu peristiwa di masa dan kondisi yang lalu dipahami dan menjadi bermakna secara nyata dimasa sekarang sekalligus mengandung aturan-aturan metodologis untuk diaplikasikan dalam penafsiran dan asumsi-asumsi metodologis dari aktivitas pemahaman.
Maulidin, berupaya menggambarkan evolusi gagasan hermeneutika dengan mengacu pada tema-tema garapannya. Pada awal perkembangannya, sekitar awal abad pertengahan, hermeneutika digagas sebagai praksis murni yang menggarap tema keagamaan. Hermeneutika, pada tahapan ini lebih merupakan piranti penafsir ayat suci. Perkembangan tahap kedua dari gagasan hermeneutika tampak dari semakin dibutuhkannya metodologi, tidak hanya untuk menggarap tema-tema keagamaan tetapi juga tema-tema kemanusiaan atau humaniora.
Hermeneutika, pada tahapan ini juga menggarap persoalanpersoalan estetika, termasuk pengalaman “memahami” karya seni. Perkembangan ketiga berupa peninjauan kembali yang lebih banyak menggarap tema-tema filsafat. Hermeneutika, pada tahapan ini semakin dipandang sebagai metodologis filosofis. Persoalan epistemologi menjadi pokok masalah yang banyak dibahas. Belakangan, hermeneutika yang semula praksis murni untuk menggarap tema-tema keagamaan, telah menarik perhatian kalangan di luar agama dan filsafat. Tahapan ini sering disebut sebagai praksis ilmiah dengan tema garapan sangat luas, yang mencakup masalah agama, filsafat, sosiologi dan humaniora.
Sejak mengalami re-evaluasi teoritik, hingga sekarang telah berkembang beberapa varian hermeneutika, diantaranya:
Pertama, hermeneutika romantisis dengan eksemplar Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher, seorang filosof, teolog, filolog, dan tokoh sekaligus pendiri Protestantisme Liberal. Filsafat hermeneutika Schleiermacher mengajukan dua teori pemahaman hermeneutika. Pertama, pemahaman ketata-bahasan terhadap semua ekspresi. Kedua, pemahaman psikologis terhadap pengarang.
Kedua, hermeneutika metodis dengan eksemplar Wilhelm Dilthey. Menurut perspectif ini, manusia bukan sekedar makhluk berbahasa tetapi makhluk eksistensial. Karena itu, proses pemahaman bermula dari pengalaman, kamudian mengekspresikannya. Menurut Dilthey, sejak awal manusia tidak pernah hidup hanya sebagai makhluk linguistik yang hanya mendengar, menulis dan membaca untuk kemudian memahami dan menafsirkan.
Ketiga, hermeneutika fenomenologis dengan eksemplar Edmund Husserl. Husserl menganggap bahwa pengetahuan dunia objektif itu bersifat tidak pasti. Melalui fenomenologi orang harus memiliki keberanian untuk menerima apa yang sebenarnya terlihat dalam fenomena secara tepat sebagaimana ia menghadirkan dirinya lebih daripada menafsirkannya. Dan kemudian menggambarkannya dengan penuh kejujuran. Menurut hermeneutika Husserl proses penafsiran harus kembali pada data, bukan pada pemikiran, yakni pada halnya sendiri menampakan dirinya.
Keempat, hermeneutika dialektis dengan eksemplar Martin Heidegger. Menurut Heidegger, prasangka-prasangka historis atas objek merupakan sumber-sumber pemahaman karena prasangka adalah bagian dari eksistensi yang harus dipahami.
Kelima, hermeneutika dialogis dengan eksemplar Hans Goerg Gadamer. Menurut Gadamer, pemahaman yang benar adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis, bukan metodologis. Artinya kebenaran dapat dicapai bukan melalui metode, tetapi melalui dialektika dengan mengajukan banyak pertanyaan. Dengan begitu, bahasa menjadi medium sangat penting bagi terjadinya dialog.
Referensi :
Mudjirahardjo, Porf.Dr. Hermeneutika Gadamerian. Malang: UIN Malang Press. 2007.
NAMA :NURMAYASOPA /108015000005
SEMESTER :IV B IPS SOSIO-ANTRO
TUGAS : SYARAT UAS
MATKUL :BAHASA DAN KEBUDAYAAN
KELOMPOK 4
TEORI KOMUNIKASI BAHASA
TEORI PENGALAMAN DAN INTERPRETASI
Fenomenologi
Fenomenologi memandang momunikasi sebagai pengalaman melalui diri sendiri atau orang lain melalaui dialog. Tradisi memandang manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungannya .
Teori behavioral dan kognitif
Teori ini berkembang dari ilmu psikologi yang memusatkan pengamatannya pada diri manusia secara individual. Beberapa pokok pikirannya:
• Salah satu konsep pemikirannya adalah model stimulus respon (SR) yang meggambarkan proses informasi antara stimulus dan respon.
• Komunikasi dianggap sebagai manifestasi dari proses berpikir, tingkah laku dan sikap seseorang. Oleh karena variabel- variabel penentu memegang peranan penting terhadap kognisi seseorang termasuk bahasa biasanya berada diluqar control individu
Contoh atau model yang termasuk dalam kelompok teori ini adalah model psikologi Comstock tenetang efek televise terhadap individu. Tujuan model adalah untuk memperhitungkan dan membantu memperkirakan terjadinya efek terhadaptingkah laku orang perorang. Model ini dinamakan model psikologi karena melibatkan masalah- masalah keadaan mental dan tingkah laku orang perorangan.
Model ini berpendapat , televise hendaknya dianggap sederajat dengan setiap pengalaman, tinadakan atau observasi personal yang dapat menimbulkan konsekuensi terhadap pemahaman maupun tindakan. Jadi model ini mencakup kasus dimana televisi tidak hanya mengajarkan tinhgkah laku yang dipelajari dari sumber- sumber lain.
TEORI KRITIS DAN INTERPRETATIF
Interpretative berarti pemahaman, berusaha menjelaskan makna dari suatu tundakan. Karena suatu tindakan dapat memeiliki banyak arti , maka makna tidak dapat diungkap dengan mudah . teori interpretative umumnya menyadari bahwa makan dapat berarti lebih dari apa yang dijelaskan oleh para pelaku. Jadi interpretasi suatu tindakan yang kreatif dalam menhgungkap kemungkinan- kemiungkinan makna. Jadi suatu teori kritis biasanya enggan memisahkan komunikasi dan elemen lainnya dari keseluruhan sistem . jadi suatu teori kritis mengenai komunikasi perlu perlu melibatkan kritik mengenai masyarakat secara keseluruhan. Citi teori ini adalah:
Penekanan terhadap peran subjektifitas yang didasarkan pada pengalaman individual.
Makna merupakan konsep kunci dalam teori ini. Pengalaman dipandang sebagai meaning centered.
Bahasa dipandang sebagai kekeuatan yang mengemudikan pengalaman manusia
Jadi dapat disimpulkan bahwa teori interpretative ditujukan untuk memahami pengalaman hidup manusia atau untuk menginterpretasikan makna- makna teks. intra personal communication berdasarkan konteks dan tingkatan analisisnya dari teori kontekstual bahwa komunikasi terjadi pada diri seseorang. Fokusnya adalah bagaiman jalan proses pengolahan informasi yang dialami seseorang melalui sistem syaraf dan inderanya. Umumnya membahas mengenai proses pemahaman , ingatan dan interpretasi terhadap simbol- simbol yang ditangkap melalui panca inderanya.
Referensi:
Sasa Juarsa S, Teori Komunikasi , Universitas Terbuka, Jakarta. 2003
Stephen W. Littljhon, Theories OF Human Communication, Wadsworth Publicatioan, New Jersey, 1996?
Nama : Zainul Abidin
NIM : 108015000067
Kelas : IV B IPS
Tugas: Bahasa dan Kebudayaan
KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
a. Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah penyampaian informasi dari seorang individu atau kelompok kepada individu atau kelompok lain, komunikasi merupakan dasar semua bentuk interaksi sosial. Dalam berbicara langsung atau tatap muka, komunikasi tidak saja diperlihatkan melalui penggunaan bahasa semata-mata, tetapi menggunakan juga tanda-tanda tubuh yang membutuhkan interpretasi tentang apa yang dikatakan dan dibuat oleh orang lain. Dengan berkembangnya media tulisan dan elektronik, seperti: radio, televisi, atau komputer, komunikasi mengubah hubungan tatap muka dengan cepat.
b. Pengertian Budaya
Selanjutnya adalah pengertian dari kebudayaan, yaitu yang berasal dari kata sansekerta Buddhayah sebagai bentuk dari buddhi, yang berarti budi atau akal. Bahasa inggrisnya adalah Culture yang berasal dari kata latin Colere, yang berarti mengolah, mengerjakan atau sebagai segala daya dan usaha manusia untuk mengubah alam. Dalam ensiklopedia umum, budaya diartikan sebagai keseluruahan warisan sosial yang dapat dipandang sebagai hasil karya yang tersusun menurut tata tertib teratur, biasanya terdiri daripada kebendaan, kemahiran tehnik, pikiran dan gagasan, kebiasaan dan nilai-nilai tertentu, organisasi social tertentu, dan sebagainya.
c. Pengertian Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya adalah:
1. Suatu studi tentang perbandingan gagasan atau konsep dalam berbagai kebudayaan,
2. Perbandingan antara satu aspek atau minat tertentu dalam satu kebudayaan.
3. Atau perbandingan antara satu aspek atau minat tertentu dengan satu atau lebih kebudayaan lain.
Disini terlihat bahwa arti komunikasi antar budaya itu lebih meliputi interaksi antar orang dari latar belakang budaya yang berbeda-beda, dimana definisi komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang mempunyai perbedaan budaya, baik dari bahasa, simbol-simbol atau latar belakang di mana ia berada, komunikasi antar budaya pada dasarnya mengkaji bagaimana budaya berpengaruh terhadap aktivitas komunikasi, apa makna verbal dan nonverbal menurut budaya-budaya bersangkutan.
Sedangkan komunikasi lintas budaya lebih menekankan pada perbandingan interaksi antar orang dari latar belakang budaya yang sama, atau perbandingan suatu aspek tertentu dari suatu kebudayaan dengan orang-orang dari suatu latar belakang budaya lain.
d. Tujuan mempelajari komunikasi lintas budaya, menurut Litvin (1977)
1. Menyadari budaya sendiri.
2. Lebih peka secara budaya.
3. Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut.
4. Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri.
5. Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang.
6. Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.
7. Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya.
8. Membantu memahami kontak antar budaya sebagai suatu cara memperoleh pandangan ke dalam budaya sendiri: asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasan-kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.
9. Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antar budaya.
10. Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dibandingkan, dan dipahami.
Siti Ulfaturrosidah
108015000019
IV IPS B
“ MAKNA UJARAN “
Ujaran merupakan terdiri dari satu kata, frase maupun kalimat yang diujarkan oleh seorang penutur yang ditandai dengan adanya unsur fonologis yaitu kesenyapan. Makna ujaran sendiri lebih banyak dibahas dalam semantik tindak tutur. Dalam makna ujaran itu sendiri yang terpenting adalah peran konteks pembicaraan dalam mengungkapkan ( tindak tutur ). Ketika seseorang akan melakukan ujaran, maka orang tersebut akan merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan topik yang akan diujarkan, lalu kemudian kalimatnya yang akan digunakan dan kembali kepada konstituen yang akan dipilih kemudian baru kepada rencana artikulasi dan bagaimana cara mengartikulasikannya. Dalam memproduksi ujaran sering terjadi hal – hal yang mempengaruhi tindak ujaran. Hal tersebut disebabkan karena :
1. Terkait dengan pengetahuan orang yang diajak berbicara, karena hal tersebut membuat si penutur akan terasa sangat sulit untuk menyampaikan informasinya. Karena suatu kalimat tidak memiliki makna bagi pendengar apabila semua informasi yang ada merupakan informasi baru.
2. Dalam komunikasi seseorang harus memilki prinsip yang kooperaktif.
Makna ujaran ialah konsep makna yang mempunyai makna yaitu :
hal yang dimaksud oleh si pembaca yaitu hal yang dikehendaki dari perkataan. Dimana misalkan dalam benaknya ingin mnyampaikan informasi terbaru kepada orang yang mngetahui hal tersebut, maka si penutur ketika mngucapkan akan suatu hal maka hal tersebut merupakan hal yang diinginkan oleh si penutur untuk diungkapkan.
Hal yang dimaksudkan oleh kalimat yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh konjungsi antara dua fungsi identifikasi dan predikatif.
Ketika seseorang menuturkan atau mengutarakan informasi maka orang tersebut hanya mengerti, akan apa yang ia sampaikan. Makana ukaran akan sangat terkait dengan suasana ataupun dalam situasi utama, hal tersebut dipengaruhi oleh :
Penutur : orang mengatakan sesuatu informasi
Pendengar : orang yang menjadi pendengar penutur
Kontak antara kedua pihak : kontak bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung
Kode linguistik yang dipakai : bahsa apa yang dipakai saat berkomunikasi
Latar : tujuan penutur untuk menyampaikan informasi
Topic amanat : sesuatu hal yang dikatakan penutur
Bentuk amanat : pesan yang disampaikan penutur
Ada pula fungsi ujaran, meliputi:
1. Bila berorientasi pada sipenutur, maka fungsi bahasa adalah personal atau pribadi. Ini mencerminkan sikap dia terhadap yang dituturkannya. Bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi memperlihatkan emosi dia sewaktu menyempaian yang dituturkan.
2. Bila berorientasi pada penanggap tutur, maka bahasa berfungsi directif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar.
3. Bila berorientasi pada pihak pada kontak antar pihak yang sedang berkomunikasi, maka fungsi bahasa sebagai menjalin hubungan, memeliharanya, memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas social.
4. Bila orientasinya pada topik ujaran, maka fungsi bahasa disebut referential. Ini mengacu bahasa sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa dalam lingkungan sekeliling atau didalam kebudayaan pada umumnya.
5. Dilihat dari amanat atau message. Bahasa pun bias kita pakai untuk mngungkapkan pikiran atau gagasan baik sesungguhnya atau tidak, perasaan dan khayalan.
Makna bahasa terdiri dari : makna morfemis, makna leksikal, makna sintaksis, dan makna wacana. Makna morfemin adalah makna yang bentuknya dapat berdiri sendiri tidak membutuhkan bentuk lainyang digabungkan denganya dan dapat dipisahkan dalam bentuk – bentuk dalam tuturan. Makna leksikal adalah makna yang tetap tidak berubah-ubah sesuai dengan makna yang ada di kamus. Makna sintaksis adalah makna yang membicarakan seluk beluk kalimat, klausa, dan frasa. Dan makna wacana adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber buku semantics karya Wahyu Sandayan
http://delapan12.blogspot.com/2010/06/dialektika-peristiwa-dan-makna-serta.html
http://joko1234.wordpress.com/2010/06/11/pembelajaran-inovatif-bahasa-indonesia/http://ramlannarie.wordpress.com/2010/06/09/semantik/
Nama : Eka Julista Prastika
NIM : 108015000009
Kelas : IVB (Sosiologi-Antropologi)
Tugas : Bahasa dan Kebudayaan
BAHASA SEBAGAI BAGIAN DARI KEBUDAYAAN
Bahasa adalah alat vital dalam menyampaikan gagasan bagi seluruh manusia. Menurut para ahli sepakat bahwa bahasa adalah alat komunikasi secara genetis yang hanya ada pada manusia, implementasinya manusia mempu membentuk lambang atau memberi nama guna menandai setiap pernyataan, sedangkan hewan tidak mampu melakukan hal itu. Kemudian, kebudayaan adalah sutau rangkaian idea, aktivitas sosial serta hasil karya yang terdapat dalam semua wujud kehidupan, seperti agama, ilmu pengetahuan, tekhnologi, ekonomi, dan lain-lain.
Bahasa adalah alat penerus kebudayaan , perkembangan bahasa data dilihat dari riwayatnya. Sama seperti halnya dengan segi kebudayaan lainnya, bahasa juga adalah hasil. Corak bahsa dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat pemakaiaanya (Speech Community). Bhasa bukanlah warisan bioligis, tetapi diperoleh melalui pelajaran dan pengalaman sejak kecil. Kemampuan anak manusai berbicara diperoleh secara lambat laun melalui proses pembelajaran dalam lingkungan keluarga atau pergaulan setempat. Bahasa adalah satu segi kebudayaan, selain itu bahsa juga merupakan dasar dari kebudayaan. Seperti halnya dengan perkembangan umat manusia itu sendiri, bahasa dan kebudayaan juga ikut berkembang.
Bahasa dan budaya itu mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi mata uang. Budaya menjadi bagian dari prilaku berbahasa, dan pada gilirannya berbahasa pun turut menetukan, memelihara, mengembanagkan atau mewarisi bahasa. Jika, membicarakan hubungan bahasa dan kebudayaan, kita harus menyorot beberapa sektor dari bahasa yaitu fonetik (bunyi), tatabahasa dan voacabulary (perbendaharaan kata-kata) secara terpisah-pisah. Artinya kita maninjau pengaruh kebudayaan pada tiap-tiap sektor tersebut satu persatu, walaupun secara sekilas. Pengaruh kebudayaan terhadap fonetik tidak langsung. Kehidupan sehari-hari mempengaruhi cara berpikir dan bertindak serta relasi, begitu juga keramahtamahan dan basa-basi yang terdapat pada lingkungan suatu masyarakat. Suatu bahasa disusun menurut tatabahasa tertentu, patut diperhatikan bahwa bahasa tidak lepas dari masyarakat pemakaiannya, malah coraknya ditentukan oleh masyarakat itu sendiri, pada zaman yang bersangkutan, kalau tidak begitu, tentu tidak ada berbagai bentuk bahasa. Pengaruh kebudayaan terhadap perbendaharaan kata-kata dapat dikatakan inilah alat kebudayaan. Dari pembendaharaan kata-kata dapat diketahui antara lain kepribadian dari pemakaian bahasa bersangkutan, hubungannya dengan lingkungan pemakai bahasa lain.
Selain itu mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan banyak yang memberikan pendapat namun ada salah satu yang dapat disimpulkan, bahwa bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan tetapi ada pula yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan duahal yang berbeda, namun mempunyai hubungan yang sangat erat sehingga tidak dapat dipisahkan. Pendapat para beberapa para ahli Antropologi tentang bahasa dan kebudayaan yaitu mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan, sehingga segala hal yang ada dalam kebudayaan akan tercermin didalam bahasa, bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan dan cara berpikir manusia atau masyarakat penuturnya.
Bahasa tidak dapat dipisahkan dari budaya bangsa, selain itu bahasa mempertajam gagasan manusia, tidak sekedar alat untuk menyampaikan gagasan. Bahasa bahagian dari kebudayaan, jadi hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan subordinatif, selain itu kebudayaan mempunyai kedudukan yang sama yaitu hubungan koordinatif. Ahli kebudayaan umumnya memandang ada tiga hal yang memastikan bahasa tidak dapat dipisahkan dengan budaya. Yaitu: bahasa adalah bagian dari kebudayaan, bahasa adalah indek kebudayaan, bahasa menjadi symbol budaya.
Sebagai kesimpulan budaya dan bahasa tidak dapat dipisahkan, oleh karena itu budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang menyandi pesan, makna ynag dimiliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Sebenarnya seluruh pembendaharaan prilaku kita sangat bergantung pada budaya tempat kita dibesarkan konsekwensinya, budaya merupakan landasan komunikasi bila budaya beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktek-praktek komunikasi.
Referensi:
Mulyana, Dedy. Komunikasi Antarbudaya. PT Remaja Rodakarya: Bandung. 2006
Cangara, Hafied. Pengantar Ilmu Komunikasi. Grafindo Persada: Jakarta: 2005
Nama : Risti Anggraini
NIM : 108015000049
Jurusan : Pendidikan IPS/IV B
Mata Kuliah : Bahasa dan Kebudayaan
Tema : Bahasa Sebagai Bagian dari Kebudayaan
Bahasa
Bahasa adalah suatu kompetensi yang terdapat dalam jiwa manusia yang isinya adalah simbol-simbol dalam berbagai bentuk yang berfungsi untuk mengkomunikasikan segala produksi dari aspek jiwa seseorang kepada aspek jiwa orang lain.yang dimaksud dengan aspek jiwa adalah pikiran, perasaan, pemahaman, pengenalan, pertimbangan, fantasi, kata hati, insting, pemenuhan kebutuhan biologis, insting pemenuhan kebutuhan agama, mencipta, berprestasi, harga diri, sosial, dan pengambilan keputusan.
Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa memerlukan bantuan manusia lain dalam kehidupannya. Para anggota masyarakat saling memerlukan pertolongan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena ada saling ketergantungan itu, maka mereka perlu menjalin kerja sama dalam rangka untuk memenuhi kepentingan atau keperluan mereka sendiri. Kerja sama antar mereka dapat berjalan dengan baik bila ada suatu alat komunikasi yang disebut bahasa. Dengan bahasa, manusia dapat mengungkapkan gagasan-gagasan dan keinginan-keinginannya kepada manusia lain dan menjalin kerja sama dengan sesama anggota masyarakat lainnya.
Namun demikian, bahasa bukanlah satu-satunya alat yang dipergunakan manusia sebagai alat komunikasi sebab dia dapat juga melakukan komunikasi dengan isyarat, ekspresi wajah dan sentuhan. Bahasa merupakan alat komunikasi yang memanfaatkan simbol-simbol yang dapat didengar (auditory symbols) atau bunyi-bunyi ujaran (speech sounds), yang dihasilkan dengan alat ucap manusia (speech organs). Sedangkan isyarat (sejumlah orang menyebut ‘bahasa’ isyarat) berupa simbol-simbol visual, yang memiliki bentuk gerakan-gerakan anggota tubuh (badan) dan ekpresi wajah; isyarat ini kadang-kadang dipergunakan orang secara bersamaan dengan penggunaan bahasa dan kadang-kadang dipergunakan secara tersendiri atau tanpa bahasa. Isyarat dapat dikatakan sebagai pelengkap atau penunjang penggunaan bahasa.
Menurut teori Parsons (dalam Soetomo, 1985) tingkah laku (berbahasa) manusia telah diatur oleh human action system. Sistem tindak manusia ini memiliki empat sub-sistem: budaya, sosial, kepribadian, dan tingkah laku manusia. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam sistem itu telah tertanam kuat pada diri seorang penutur bahasa (Jawa, misalnya), maka dapat saja dia terhambat oleh kultur Jawa-nya ketika dia berbahasa Indonesia. Dapat dikatakan bahwa bahasa bukan saja sebagai salah satu segi kebudayaan, tetapi juga merupakan dasar dari kebudayaan. Bahasa juga berfungsi sebagai alat penghubung. Bahasa timbul sesuai dengan kebutuhan manusia dalam hidupnya. Bahasa sama seperti halnya dengan segi-segi kebudayaan lain, merupakan cirri yang membedakan manusia dari hewan. Kalau kita memberbicarakan bahasa, kita harus mengetahui bidang-bidang apa saja yang dibicarakan, antara lain: struktur bahasa, perbendaharaan kata, tata bahasa, sejarah bahasa, fonetik, fonemik, semantika, inotasi, rumpun-rumpun bahasa dan kesusastraan.
Melihat kepada lingkungan pemakaian, bahasa dapat dibagi-bagi atas: basa yang dipakai dalam rumah tangga, bahasa pergaulan sehari-hari, logat (dialek) setempat dan bahasa nasional (bahasa Indonesia). Ini menunjukkan betapa luasnya bidang pemakaian bahasa dan ini berarti bahasa bukan semata-mata tumpukan bunyi atau kata yang mempunyai arti dan susunan tertentu, tetapi juga sebagai warisan masyarakat melalui generasi-generasi yang hidup pada masa-masa- bersangkutan.
Bahasa menjadi alat untuk melakukan komunikasi atau hubungan, disamping sebagai alat untuk melahirkan buah pikiran, perasaan, tukar-menukar pengalaman, dan lain-lain kebutuhan, yang dilakukan secara tertulis atau secara lisan. Pada umumnya bentuk-bentuk bahasa itu terdiri dari bahasa lisan dan tulisan. Tidak semua bahasa mengenal tulisan. Suatu bahasa tidak dapat diukur perkembangannya hanya dengan tulisan.
Pesan verbal terdiri dari kata-kata terucap atau tertulis (berbicara dan menulis adalah perilaku-perilaku yang menghasilkan kata-kata), semmentara pesan nonverbal adalah seluruh perilaku lainnya yaitu melalui ekspresi wajah, sikap tubuh, gerakan dan nada suara. Terdapat unsure-unsur komunikasi: (1) sumber (source) adalah orang yang mempunyaisuatu kebutuhan untuk berkomunikasi. (2) penyandian (encoding) adalah suatu kegiatan internal seseorang untuk memilih dan merancang perilaku verbal dan nonverbalnya sesuai aturran tata bahasa dan sintaksis, (3) pesan (message), (4) saluran (channel) adalah alat fisikyang memindahkan pesan dari sumber ke penerima, (5) penerima (receiver) adalah orang yang menerima pesan dan sebagai akibatnya menjadi terhubungkan dengan sumber pesan, (6) penyandian balik (decoding) adalah proses internal penerimaan dan pemberian makna kepada perilaku sumber yang mewakili perasaan dan pikiran sumber, (7) respon penerima (receiver response), dan (8) umpan balik (feedback).
Nama : SARAS DWI CAHYANI
NIM : 108015000038
TEORI INTERPRETASI
Interpretasi adalah proses pembentukan lisan atau gerak komunikasi antara dua atau lebih pembicara yang tidak dapat menggunakan satuan simbol yang sama. Interpretasi merupakan istilah yang digunakan dalam pengaturan pendidikan informal untuk menggambarkan setiap proses komunikasi yang dirancang untuk mengungkapkan makna dan hubungan alam dan warisan budaya melalui keterlibatan tangan pertama dengan objek, artifak, dan situs. Suatu interpretasi dapat menjadi bagian dari sebuah presentasi atau penggambaran informasi yang diubah dalam rangka memenuhi seperangkat simbol tertentu. Hal ini mungkin diucapkan, ditulis, digambar, matematika, seni patung, sinematik, geometris atau bentuk lain bahasa.
Interpretasi merupakan proses aktif menghasilkan nilai-nilai dan makna, sebuah proses yang selalu terjadi dalam konteks budaya dan politik yang spesifik, langsung dihubungkan dengan dunia di mana kehidupan pembaca.
Teori interpretasi berarti pemahaman dan berusaha menjelaskan makna dari suatu tindakan, karena dari suatu tindakan tersebut dapat memiliki banyak arti, oleh sebab itu makna tidak dapat diungkap begitu saja. Teori komunikasi interpretatif mengadopsi dari teori interaksi simbolis, teori hermenuetik, teori semitioka, dan teori simbol.
Teori-teori ini berkembang sangat pesat dalam bidang komunikasi, dengan berkembangnya media komunikasi yang begitu pesat terutama pada media cetak dan elektronik. Dengan ini maka kemajuan visualisasi media informasi menyebabkan penggunaan simbol-simbol sosial dan budaya modern tidak dapat dihindari.
Teori interpretasi ini berkembang dari tradisi sosiologi interpretif, yang dikembangkan oleh Alfred Schulzt, Paul Ricour et al. Teori-teori interpretasi ini kemudian melahirkan teori dan pendekatan baru dalam komunikasi seperti sosiologi komunikasi, hukum komunikasi, dan hukum media, komunikasi antar budaya, komunikasi politik, komunikasi organisasi, dan komunikasi publik. Teori interpretasi lebih menekankan pada peranan subjektifitas yang didasarkan pada pengalaman individu. Pengalaman dipandang sebagai makna atau dasar pemahaman makna. Dengan memahami makna dari suatu pengalaman, seseorang menjadi sadar akan hidupan dirinya sendiri. Pendekatan teori interpretasi ini cenderung menghindarkan sifat-sifat preskriptif (kepentingan tujuan) dan keputusan-keputusan absolut tentang fenomena yang diamati. Pengamatan menurut teori interpretasi hanyalah suatu yang bersifat tentatif dan relatif. Jadi teori interpretasi ditujukan untuk memahami pengalaman hidup manusia, atau untuk menginterpretasikan makna-makna teks.
Awis Alqurni (108015000040)
INTERAKSIONISME SIMBOLIK
Definisi dari kata “interaksi” dan “simbolik”. Menurut kamus komunikasi (Effendy. 1989: 184) definisi interaksi adalah proses saling mempengaruhi dalam bentuk perilaku atau kegiatan di antara anggota-anggota masyarakat, dan definisi simbolik (Effendy. 1989: 352) adalah bersifat melambangkan sesuatu. Simbolik berasal dari bahasa Latin “Symbolic(us)” dan bahasa Yunani “symbolicos”.
Dan seperti yang dikatakan oleh Susanne K. Langer dalam Buku Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar (Mulyana. 2008: 92), dimana salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang, dimana manusia adalah satu-satunya hewan yang menggunakan lambang.
Ernst Cassirerdala m Mulyana (2008: 92) mengatakan bahwa keunggulan manusia dari mahluk lain adalah keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kam. 2001: 438), definisi interaksi adalah hal yang saling melakukan aksi, berhubungan, mempengaruhi; antarhubungan. Dan definisi simbolis (Kam. 2001: 1066) adalah sebagai lambang; menjadi lambang; mengenai lambang.
Interaksi simbolik menurut Effendy (1989: 352) adalah suatu faham yang menyatakan bahwa hakekat terjadinya interaksi sosial antara individu dan antar individu dengan kelompok, kemudian antara kelompok dengan kelompok dalam masyarakat, ialah karena komunikasi, suatu kesatuan pemikiran di mana sebelumnya pada diri masing-masing yang terlibat berlangsung internalisasi atau pembatinan.
Penulis mendefinisikan interaksi simbolik adalah segala hal yang saling berhubungan dengan pembentukan makna dari suatu benda atau lambang atau simbol, baik benda mati, maupun benda hidup, melalui proses komunikasi baik sebagai pesan verbal maupun perilaku non verbal, dan tujuan akhirnya adalah memaknai lambang atau simbol (objek) tersebut berdasarkan kesepakatan bersama yang berlaku di wilayah atau kelompok komunitas masyarakat tertentu. Teori Interaksi Simbolik merupakan pendatang baru dalam studi ilmu komunikasi, yaitu sekitar awal abad ke-19 yang lalu. Sampai akhirnya teori interaksi simbolik terus berkembang sampai saat ini, dimana secara tidak langsung SI merupakan cabang sosiologi dari perspektif interaksional. Interaksi simbolik menurut perspektif interaksional, dimana merupakan salah satu perspektif yang ada dalam studi komunikasi, yang barangkali paling bersifat ”humanis” (Ardianto. 2007: 40). Dimana, perspektif ini sangat menonjolkan keangungan dan maha karya nilai individu diatas pengaruh nilai-nilai yang ada selama ini. Perspektif ini menganggap setiap individu di dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan, berinteraksi di tengah sosial masyarakatnya, dan menghasilkan makna ”buah pikiran” yang disepakati secara kolektif. Dan pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa setiap bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh setiap individu, akan mempertimbangkan sisi individu tersebut, inilah salah satu ciri dari perspektif interaksional yang beraliran interaksionisme simbolik. Interaksi simbolik pada intinya menjelaskan tentang kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lain, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana cara dunia membentuk perilaku manusia.
Intinya ciri khas dari teori interaksi simbolik terletak pada penekanan manusia dalam proses saling menterjemahkan, dan saling mendefinisikan tindakannya, tidak dibuat secara langsung antarastimulus-response, tetapi didasari pada pemahaman makna yang diberikan terhadap tindakan orang lain melalui penggunaan simbol-simbol, interpretasi, dan pada akhirnya tiap individu tersebut akan berusaha saling memahami maksud dan tindakan masing-masing, untuk mencapai kesepakatan bersama.
Nama : Nurhasanah NIM : (108015000013) Kelas : IV B IPS
Tugas: Bahasa dan Kebudayaan
Teori Realitas Sosial dan Kebudayaan
Luckman dalam buku The Social Of Construction Reality. Menurut Berger realitas itu tidak di bentuk secara ilmiah ataupun sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi dibentuk dan di perintahkan. Setiap orang mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas, berdasarkan pengalaman, pendidikan dan lingkungan sosial, yang dimiliki masing-masing individu.
Realitas adalah hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstruksi sosial terhadap dunia sosial di sekelilingnya. Pada kenyataannya, realitas sosial tidak berdiri sendiri tanpa kehadiran individu, baik di dalam maupun di luar realitas tersebut. Realitas sosial itu memiliki makna, manakala realitas sosial di konstruksi dan dimaknakan secara subjektif oleh individu lain sehingga memantapkan realitas itu secara objektif. Individu mengkonstruksikan realitas sosial, dan merekonstruksikannya dalam dunia realitas, memantapkan realitas itu berdasarkan subjektifitas individu lain dalam institusi sosialnya.
Dalam realitas, bahasa merupakan unsur utama. Ia merupakan bagian pokok untuk menceritakan realitas. Bahasa adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Begitu pentingnya bahasa, maka tak ada berita, cerita ataupun ilmu pengetahuan tanpa ada bahasa. Dengan adanya bahasa bukan lagi sebagai alat untuk menggambarkan realitas, tetapi juga bisa menentukan gambaran yang akan muncul di masyarakat. Bahasa juga mampu mempengaruhi cara berbicara, tata bahasa, susunan kalimat, perluasan kata, dan mengubah atau mengembangkan percakapan, bahasa, dan makna.
Menurut De Fleur dan Ball-Rokeach, ada berbagai cara mempengaruhi bahasa dan makna, antara lain: mengembangkan kata-kata baku beserta makna asosiasinya, memperluas makna dan istilah-istilah yang ada, mengganti makna lama serta istilah dengan makna baru, serta memantapkan makna yang telah ada dalam suatu sistem bahasa. Dengan begitu, penggunaan bahasa tertentu jelas terhadap kemunculan makna tertentu. Pilihan kata dan cara penyajian suatu realitas turut menentukan bentuk konstruksi realitas yang sekaligus menentukan makna yang muncul darinya.
Tingkat budaya dalam hal kenyataan sosial maksudnya adalah meliputi arti simbol, norma ,dan pandangan hidup umumnya yang dimiliki oleh suatu anggota masyarakat. Sedangkan tingkat budaya itu sendiri memiliki arti melihat realitas sosial menurut perspektif budaya. Dan istilah Kebudayaan yaitu terdiri dari hasil-hasil tindakan dan interaksi manusia termasuk karya cipta manusia berupa materi atau non-materi. Kebudayaan non materi adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengertian, kepercayaan, seni, moral, hukum, kebiasaan dan kemampuan-kemampuan dan tata cara lainnya yang diperoleh manusia sebagai seorang anggota masyarakat.
Manusia dalam banyak hal memiliki kebebasan untuk bertindak di luar batas kontrol struktur dan pranata sosialnya di mana individu berasal. Manusia secara aktif dan kreatif mengembangkan dirinya melalui respon-respon terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya. Karena itu, paradigma definisi sosial lebih tertarik terhadap apa yang ada dalam pemikiran manusia tentang proses sosial, terutama para pengikut interaksi simbolis. Dalam proses sosial, individu manusia dipandang sebagai pencipta realistis sosial yang relatif bebas didalam dunia sosialnya.
Manusia adalah aktor yang kreatif dari realitas sosialnya. Dalam arti, tindakan manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai dan sebagainya, yang kesemuanya itu tercakup dalam fakta sosial yaitu tindakan yang menggambarkan struktur dan pranata sosial.
Realitas sosial itu “ada” dilihat dari subjektivitas “ada” itu sendiri dan dunia objektif disekeliling realitas sosial itu. Individu tidak hanya dilihat sebagai “kedirian”-nya, namun juga dilihat dari mana “kedirian” itu berada, bagaimana ia menerima dan mengaktualisasikan dirinya serta bagaimana pula lingkungan menerimanya.
Max Weber melihat relitas sosial sebagai prilaku sosial yang memiliki makna subjektif, karena itu prilaku memiliki tujuan dan motivasi. Prilaku sosial itu menjadi “sosial”, oleh weber dikatakan, kalau yang dimaksud subjektif dari prilaku sosial membuat individu mengarahkan dan memperhitungkan kelakuan orang lain dan mengarahkan kepada subjektif itu. Prilaku itu memiliki kepastian kalau menunjukkan keseragaman dengan prilaku pada umumnya dalam masyarakat.
Nama : Nurfalah Hayun
NIM : 108015000022
Kelas : IVB (Pend. IPS)
Matkul : Bahasa dan Kebudayaan
FUNGSI KOMUNIKASI
Komunikasi adalah suatu proses, komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan, komunikasi adalah upaya yang disengaja dan punya tujuan (dilakukan dalam keadaan sadar). Komunikasi menuntut adanya partisipasi dan kerjasama dari para pelaku yang terlibat. Aktifitas komunikasi akan berlangsung dengan baik, apabila pihak-pihak yang terlibat berkomunikasi. Komunikasi bersifat simbolis.
Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan yang dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang. Komunikasi bersifat transaksional, Komunikasi pada dasarnya menuntut dua tindakan yaitu memberi dan menerima.
Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu komunikasi menembus faktor waktu dan ruang maksudnya bahwa para peserta atau pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat yang sama.
Begitu pentingnya komunikasi dalam hidup manusia, maka Harold D. Lasswell mengemukakan bahwa fungsi komunikasi antara lain 1. Manusia dapat mengontrol lingkungannya, 2. Beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka berada, 3. Melakukan transformasi warisan social kepada generasi berikutnya. Selain itu, ada beberapa pihak menilai bahwa dengan komunikasi yang baik, hubungan antarmanusia dapat dipelihara kelangsungannya. Sebab, melalui komunikasi dengan sesama manusia kita bisa memperbanyak sahabat, memperbanyak rezeki, memperbanyak dan memelihara pelanggan (customer), dan juga memelihara hubungan yang baik antara bawahan dan atasan dalam suatu organisasi, yang dimana komunikasi berfungsi menjembati hubungan antarmanusia dalam masyarakat.
Fungsi Komunikasi secara umum:
1. Dapat menyampaikan pikiran atau perasaan
2. Tidah terasing atau terisolasi dari lingkungan
3. dapat mengajarkan atau memberitahukan sesuatu
4. dapat mengetahui atau mempelajari dari peristiwa di lingkungan
5. Dapat mengenal diri sendiri
6. Dapat memperoleh hiburan atau menghibur orang lain.
7. Dapat mengurangi atau menghilangkan perasaan tegang
8. Dapat mengisi waktu luang
9. Dapat menambah pengetahuan dan merubah sikap serta perilaku kebiasaan
10. Dapat membujuk atau memaksa orang lain agar berpendapat bersikap atau berperilaku
sebagaimana diharapkan.
Fungsi Komunikasi Menurut William I. Gorden
William I. Gorden mengenai fungsi-fungsi komunikasi yang dibagi menjadi empat bagian. Fungsi-fungsi suatu peristiwa komunikasi (communication event) tampaknya tidak sama sekali independen, melainkan juga berkaitan dengan fungsi-fungsi lainnya, meskipun terdapat suatu fungsi dominan.
FUNGSI KOMUNIKASI SOSIAL komunikasi itu penting membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, kelangsungan hidup untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan.Pembentukan konsep diriKonsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita dan itu hanya bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Pernyataan eksistensi diri Orang berkomunikasi untuk menunjukkan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi diri atau pernyataan eksistensi diri. Ketika berbicara, kita sebenarnya menyatakan bahwa kita ada.
FUNGSI KOMUNIKASI EKSPRESIF Komunikasi ekspresif dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi kita) melalui pesan-pesan non verbal.
FUNGSI KOMUNIKASI RITUAL Komunikasi ritual sering dilakukan secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dalam acara tersebut orang mengucapakan kata2 dan menampilkan perilaku yang bersifat simbolik.
FUNGSI KOMUNIKASI INSTRUMENTAL Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum: menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan dan juga untuk menghibur (persuasif) Suatu peristiwa komunikasi sesungguhnya seringkali mempunyai fungsi-fungsi tumpang tindih, meskipun salah satu fungsinya sangat menonjol dan mendominasi.
Manusia merupakan mahluk sosial yang sangat membutuhkan orang lain untuk melengkapi kehidupannya, kebutuhan terhadap orang lain itu juga tidak melulu kebutuhan psikis untuk berbagi dan komunikasi saja, namun juga masalah kebutuhan fisik seperti ketersediaan makanan, minuman, pelayanan kesehatan yang layak, karena tidak mungkin kan, kita mengolah seluruh kebutuhan fisik kita sendirian, seperti kita menyiapkan makanan sendiri, dari menanam tanaman, berburu hewan, memasak dan mengolah masakan, semuanya sendiri
Komunikasi juga merupakan skill (keahlian) dasar dari tiap individu di dunia, kita biasanya menemukan bentuk komunikasi dari bahasa lisan, bahasa tubuh, bahasa isyarat, bahasa qalbu, dan lain-lain yang tentunya baik sumber maupun tujuan mengerti mengenai informasi yang disampaikan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar